Definisi Geografi Sosial

Posted on

Definisi Geografi Sosial – Geografi seringkali nampak dilibatkan dalam sebuah proses mempertanyakan keberadaan dan persoalan utamanya. Batasan-batasan tersebut didefinisikan secara sembarang dan disiplin ilmu yang ada mempunyai perhatian yang sama dengan subyek yang lainnya – geologi, sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, perencanaan, botani, politik, demografi dan lain sebagainya. Oleh karena itu geografi tidak dapat dengan mudah ditempatkan dalam cakupan baik itu ilmu bumi atau pun ilmu-ilmu sosial atau untuk persoalan itu dikelompokkan dalam ilmu-ilmu geometri.

definisi geografi sosial
Gambar: google

Persamaan itu benar adanya ketika kita melihat spesialisasi dalam geografi. Sebagai contoh, tidak ada satu pun korespondensi yang terperinci diantara geografi dan ekonomi yang keduanya menghasilkan geografi ekonomi. Geografi ekonomi juga melibatkan pemikiran-pemikiran akan tren yang terjadi di masa lampau, intervensi pemerintah, dan karakteristik tenaga kerja dan oleh karena itu pula geografi ekonomi mempunyai hubungan dengan sejarah, politik dan perencanaan, dan demografi.

Kesulitan-kesulitan dalam mendefinisikan wilayah kajian ini bahkan lebih sulit dalam geografi sosial, spesialisasi yang agak baru yang mana hubungan dengan disiplin ilmu lainnya masih terus ditempa. Hubungan akademik yang jelas adalah antara geografi dan sosiologi dan kita dapat berargumentasi bahwa teori geografis yang paling sosial adalah lebih nampak menjadi sosiologis dalam kata turunannya. Namun di sana terdapat kebutuhan lain yang berkaitan, sebagai contoh, dengan perencanaan, sejarah, demografi, dan ekonomi. Sistem filsalah yang menggunakan pemilihan semacam itu berarti bahwa tidak terdapat persoalan utama yang semua ahli geografi sosial dapat menerimanya. Oleh karena itu, beberapa diantara mereka mungkin mengatakan bahwa geografi sosial itu merupakan apa yang oleh para ahli geografi lakukan.

Walau bagaimana pun, sudah terdapat banyak upaya untuk memberikan banyak definisi geografi sosial, namun hal ini dapat diargumentasikan bahwa hal tersebut diwarnai oleh perhatian-perhatian tertentu dari penulisnya. Sebagai contoh, Watson telah mendefinisikan subyek sebagai ‘identifikasi pada wilayah-wilayah yang berbeda di permukaan bumi berdasarkan pada asosiasi fenomena sosial yang berkaitan dengan lingkungan keseluruhan’. Penekanannya ditempatkan pada pemikiran pembedaan wilayah, kesederhanaannya ini dibentuk dari sosial. Konsepsi dari Pahl tentang spesialisasi itu adalah sebagai ‘kajian dari pola-pola dan proses-proses dalam pemahaman akan populasi yang didefinisikan secara sosial dalam kerangka keruangan’. Dia menekankan satu orientasi sosiologis, yang mana ‘kerangka keruangan’ tersebut semata-mata hanyalah kerangka untuk analisis sosial.

Buttimer mengatakan bahwa geografi sosial adalah ‘kajian tentang pola-pola wilayah ‘keruangan’ dan hubungan fungsional antar kelompok sosial dalam konteks lingkungan sosial; susunan hubungan internal dan eksternal dari simpul-simpul aktifitas sosial, dan artikulasi dari keragaman cara komunikasi sosial. Definisi ini mengarahkan perhatian pada makna dari lingkungan ke kelompok dan aktifitas kelompok tersebut yang ada di dalamnya. Walau bagaimana pun hal ini merupakan dua definisi lain yang secara mengejutkan paling mendekati dengan tujuan-tujuan kita dalam buku ini. Eyles melihat bahwa geografi sosial sebagai ‘analisis dari pola-pola dan proses-proses sosial yang muncul dari distribusi akan dan akeses terhadap sumber-sumber yang langka’, sedangkan Jones mengartikan geografi sosial sebagai ‘pemahaman akan pola-pola yang muncul dari fungsi kelompok-kelompok sosial yang membuat ruang sebagaimana mereka melihat hal tersebut, dan fungsi dari proses-proses yang dilibatkan dalam pembuatan dan perubahan pola-pola semacam itu’. Pendekatan dari Jones ini menempatkan penekanan pada kelompok sosial, sedangkan penambahan dari sudut pandang Eyles menjadikan geografi sosial secara eksplisit berorientasi pada permasalahan: dengan kata lain, geografi sosial harus mendapatkan hasil-hasil sosio-wilayah dari keterbatasan dan distribusi yang tidak merata dari sumber-sumber yang diinginkan (barang, layanan, dan fasilitas) di masyarakat Barat.

Kita dapat menuju ke empat tema yang dominan dalam buku ini. Pertama, geografi sosial, seperti induk ilmunya, utamanya berkaitan dengan ruang. Dalam kajian kita, kita perlu untuk mengetahui makna-makna yang mana kelompok-kelompok yang berbeda berada pada ruang sebagaimana halnya dengan aktifitas yang oleh kelompok-kelompok tersebut lakukan di lingkungannya. Masih terdapat banyak ketidakleluasaan yang penting lainnya di samping persepsi yang mempengaruhi aktifitas seperti diskusi kita yang ditunjukkan dari orang-orang yang tinggal di kota.

Kedua, sebuah fungsi dari ahli ilmu sosial adalah untuk mencari urutan dalam persoalan utama mereka, yakni untuk membangun pola-pola. Langkah awal dalam kebanyakan penyelidikan keilmuwan adalah untuk memilih dan menukar informasi yang ada untuk melihat jika telah ada satu pola koheren yang muncul. Sebagai contoh, jika kita tertarik pada distribusi dari para imigran kulit hitam di kota, pertama-tama kita harus menentukan makna dari istilah ‘hitam’ dan ‘imigran’ dan selanjutnya adalah pada skala analisis, seperti kota kecil, distrik kota, dan distrik enumerasi. Kemudian perlu untuk mendeskripsikan distribusi dari para imigran kulit hitam, seringkali dengan cara memetakan jumlah mereka di masing-masing sub-divisi. Distribusi ini membentuk pola kita.

Ketiga, mungkin satu fungsi yang lebih besar dari para ahli ilmu sosial adalah mencoba untuk menjelaskan pola-pola yang sedemikian mantap, yakni untuk menguji proses-proses tersebut yang nampak menghasilkan satu pola tertentu. Sebagai contoh, dari pola kita tentang imigrasi kulit hitam, maka kita perlu untuk mengetahui jika hal tersebut membentu proporsi yang signifikan dalam sub-divisi yang mana mereka tinggal. Ketika hal ini telah mantap, kita harus mencari alasan-alasan untuk keberadaannya, ketidakadaannya, atau konsentrasi dalam wilayah-wilayah tertentu. Imigrasi kulit hitam dapat dengan baik dipisahkan dalam distrik-distrik tertentu, karena kekuatan penghasilannya, sikap dari orang kulit putih, keputusan-keputusan politis, kesukaan personal, dan lain sebagainya.

Keempat, dengan diberikannya keinginan untuk satu pendekatan yang berorientasi pada permasalahan, permasalahan-permasalahan sosial dan konsentrasi wilayahnya harus diidentifikasi. Perspektif ini membutuhkan usaha-usaha untuk memperbaiki permasalahan-permasalahan yang ditemui itu dapat dinilai, yakni kita harus memikirkan perencanaan sosial, untuk kesejahteraan kolektif masyarakat yang kompleks dan juga kesejahteraan dari para anggota masyarakat yang terlemah dapat dipertahankan dan ditingkatkan hanya dengan tindakan masyarakat yang spesifik. Sebagai contoh, mungkin saja ditemukan bahwa terdapat distrik-distrik tertentu di sebuah kota yang mengalami banyak ketidakberuntungan (pengangguran, perumahan kumuh, kepadatan, aksi kriminal yang tinggi) hingga tingkat yang lebih luas dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya. Dapat pula dipikirkan bahwa perampasan dari wilayah-wilayah tersebut dapat dengan baik ditanggulangi dengan cara meningkatkan fasilitas-fasilitas pendidikan. Maka dari itu reformasi kependidikan juga dilihat sebagai sebuah cara memecah lingkaran perampasan yang kejam. Di Inggris, argumentasi ini telah mengarah pada penyusunan prioritas di wilayah pendidikan yang didiskusikan panjang lebar di lain kesempatan.

SA – Definisi Geografis Sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *