disposisi perilaku
Gambar: Akar Kuadrat

Disposisi Perilaku sebagai Tujuan Pendidikan

Posted on
disposisi perilaku
Gambar: Akar Kuadrat

DISPOSISI Perilaku sebagagi Tujuan Pendidikan – Salah pertanyaan utama yang muncul ketika mengembangkan kurikulum adalah, Apa yang harus dipelajari? Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan ini (Katz,1991) adalah dengan memakai empat tipe tujuan pembelajaran, yaitu berhubungan dengan pengetahuan, skill, disposisi, dan perasaan. Kemahiran dalam kedua pengetahuan dan skill tersebut sering dianggap sebagai tujuan pendidikan, dan kebanyakan pendidik juga akan langsung setuju bahwa kebanyakan perasaan (contoh, harga diri) juga dipengaruhi oleh pengalaman di sekolah dan sehingga dapat bermanfaat sebagai tambahan dalam tujuan pembelajaran. Namun, disposisi sangat jarang dimasukkan, meskipun sering secara tidak langsung diterapkan dengan penambahan perilaku (contoh sikap terhadap pembelajaran) sebagai tujuan. Tujuan utama dari intisari ini adalah untuk menguji makna istilah DISPOSISI dan memberikan saran penerapan disposisi dalam praktik.

APA YANG DIMAKSUD DISPOSISI?

Tampaknya cukup jelas bahwa istilah DISPOSISI dapat digunakan untuk membedakan trend dalam perilaku dari skill, sikap, sifat/karakter dan kebiasaan tanpa pertimbangan (contoh, mengencangkan sabuk pengaman), dan pembedaan2 ini mempunyai penerapan yang bermanfaat, praktis meskipun tidak sesuai dengan tingkat ketelitian yang diharapkan. Mengenai skill, contoh, para pendidik dan juga kebanyakan para pengamat, mengetahui bahwa sangat mungkin seseorang memiliki skill tapi kurang berminat atau tidak terbiasa untuk menggunakan skill tersebut. Hampir serupa, pengetahuan dapat diperoleh tanpa memiliki disposisi untuk menggunakannya. Uraian lebih lanjut tentang hakikat disposisi dapat diperoleh dengan membedakan disposisi dari gagasan yang berkaitan seperti proses berpikir, motif, dan hambatan bekerja.

Untuk tujuan2 tentang penelitian implikasi disposisi, penulis mengusulkan definisi sementara dibawah ini:

Disposisi adalah kecenderungan untuk sering muncul  Secara sadar, dan sukarela sebuah bentuk perilaku yang menuju pada tujuan yang luas

Dalam hal keingintahuan, contoh, anak2 dapat dikatakan memiliki disposisi penasaran jika mereka sering dan selalu merespon lingkungan sekitar mereka dengan menjelajah, menguji, dan bertanya tentangnya. Begitu juga, disposisi untuk mengeluh atu merengek akan menguat jika sering muncul, dan melemah jika jarng muncul. Keduanya adalah contoh disposisi: mereka secara sengaja dan sadar menuju pada objek dan situasi tertentu untuk mencapai tujuan. Karena tidak semua disposisi diinginkan, praktik mengajar harus mencari tidak hanya penguatan disposisi yang diinginkan, namun juga pelemahan disposisi yang tidak diinginkan.

IMPLIKASI DAN PELAKSANAAN

Terdapat beberapa alasan yang mnyatakan bahwa disposisi harus dimasukkan dalam tujuan kependidikan. Alasan yang paling utama adalah, seperti sudah dijelaskan, bahwa kemahiran dalam pengetahuan dan skill tidak menjamin bahwa keduanya akan digunakan dan diterapkan. Seperti Cantor (1990) mencontohkan, “memiliki” bukan berarti “melakukan.” Contoh, sepertinya seluruh anak memiliki keterampilan mendengarkan (listening), namun mereka mungkin memiliki atau mungkin juga tidak memiliki disposisi untuk menjadi pendengar (listeners). Praktik mengajar harus dihitung sebagai cara disposisi dihubungkan dengan skill yang dapat diperkuat.

Kedua, pertimbangan disposisi sangat penting karena proses pengajaran, dimana pengetahuan dan skill diperoleh, dapat merusak atau mengurangi disposisi untuk menggunakannya. Contoh, satu risiko pengajaran formal akhir2 ini dalam reading (membaca) adalah jumlah pengayaan (drill) dan latihan yang diberikan untuk keberhasilan reading bahasa Inggris pada usia dini yang terlalu banyak dapat mengurangi disposisi siswa untuk menjadi pembaca (readers) (Katz, 1992).

Maka, sangat jelas bahwa seorang anak belum perlu mempelajari skill jika, dalam proses mengajari mereka, disposisi yang digunakan bagi mereka merusak. Di sisi lain, mempunyai disposisi menjadi pembaca tanpa memiliki skill yang dibutuhkan juga tidak dikehendaki. Jadi, kemahiran dalam skill reading dan disposisi menjadi reader harus disatukan dalam tujuan kependidikan.

Ketiga, beberapa disposisi penting relevan dengan pendidikan, seperti disposisi untuk meneliti (investigasi) dapat dianggap sebagai pembawaan lahir. Ketika pengalaman2 anak mendukung perwujudan disposisi dengan rancang bangun yang tepat (lihat Rogoff, Gauvain, dan Ellis, 1990) dan kondisi lingkungan, maka disposisi dapat diperkuat. Tanpa pengalaman pendukung seperti diatas maka dapat melemahkan atau bahkan memusnahkan. Meskipun pengetahuan dan skill tidak diperlukan pada usia dini namun diperlukan pada usia kemudian, disposisi mungkin kurang diterima dalam kemahiran jika telah rusak.

Keempat, proses memilih kurikulum dan strategi mengajar harus memasukkan pertimbangan tentang bagaimana disposisi yang diharapkan dapat diperkuat dan disposisi yang tidak diharapkan dapat dilemahkan. Jadi, ketika memilih praktik mengajar, memberi kesempatan bagi anak untuk menunjukkan disposisi yang diharapkan harus menjadi pertimbangan. Contoh, jika disposisi untuk menerima teman2 sebaya dari berbagai latar belakang akan diperkuat, maka kesempatan untuk berhubungan dengan perilaku tersebut harus diberikan.

Kelima, berdasarkan bukti yang dikumpulkan melalui penelitian tentang penguasaan versus motivasi tampil, tampaknya cukup beralasan untuk menyatakan bahwa terdapat umpan balik positif yang besar bagi anak kecil dimana mereka menjadi asyik dengan penampilan mereka dan penilaian anak lain dibandingkan jika mengerjakan tugas, dan oleh karena itu, prestasi mereka akan diukur melalui disposisi yang mereka tunjukkan dalm belajar.

Keenam, disposisi kurang bisa diukur melalui proses didaktik dibandingkan jika dirancang seakan anak2 berada diantara orang2 yang menonton mereka. Jika guru ingin siswa anak2 mereka dapat memperkuat disposisi dalam menginvestigasi, memberikan hipotesis, percobaan, dan seterusnya, para guru mungkin dapat mempertimbangkan untuk membuat disposisi intelektual sendiri yang lebih mudah dipahami siswanya. Daftar cara potensi yang dapat digunakan guru dalam menunjukkan disposisi intelektual yang dapat diperkuat dan didukung sangatlah panjang dan membutuhkan perhatian serius dalam pelajaran perencanaan kurikulum dan pendidikan guru.

 

—–

Disadur dari DISPOSISI: DEFINISI DAN PENERAPAN DALAM PRAKTIK ANAK USIA DINI, by Lilian G. Katz. Urbana, IL:ERIC Clearinghouse on Elementary and Early Childhood Education. 1993. (Catalog #211; 47pp.; $5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *