Hambatan dalam pendidikan perempuan di Indonesia

Posted on
Hambatan dalam pendidikan perempuan di Indonesia
Gambar: Hambatan dalam Pendidikan

Hambatan dalam pendidikan perempuan di Indonesia ini merupakan kelanjutan dari “Fakta pendidikan perempuan di Indonesia” yang saya posting kemarin yang juga merupakan bagian dari peringatan kelahiran RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Seperti halnya kemarin, tulisan ini adalah hasil penerjemahan dari “Fact Sheet: Girl’s Education in Indonesia” yang dikeluarkan oleh Unicef. Pada bagian kali ini akan menyoroti hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pendidikan untuk anak-anak perempuan di Indonesia. Setidaknya 6 hambatan dalam pendidikan perempuan di Indonesia yang dijelaskan secara singkat dalam laporan Unicef ini.

 Meskipun hal ini nyata bahwa akses untuk pendidikan menjadi semakin terbatas dimana para siswa yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Indonesia telah mencapai seluruh perkembangan yang baik terhadap kesetaraan gender pada rata-rata rasio pendaftaran murni (NER/Net Enrollment Ratio) di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Apakah ini berarti bahwa Indonesia tidak mempunyai permasalahan yang serius dalam bidang pendidikan? Jauh dari hal ini, persoalan-persoalan gender yang kurang jelas, lebih kompleks dan sulit terpecahkan—mungkin sulit untuk dinyatakan dengan perbaikan yang cepat—terus mengancam Indonesia. Persoalan-persoalan yang lebih besar ini menjadi hambatan-hambatan dalam mencapai kesetaraan gender di dunia pendidikan yang meliputi:

Buku teks yang bias akan gender: hal ini menguatkan stereotype gender menjadi makin luas digunakan di sekolah-sekolah. Kajian-kajian yang menganalisa isi dari buku teks tingkat sekolah dasar menunjukkan bahwa terdapat banyak ilustrasi yang menunjukkan lebih banyak laki-laki dari pada perempuan. Ilustrasi-ilustrasi laki-laki (termasuk anak laki-laki) menunjukkan perbedaan dan kreatifitas yang lebih dalam hal peranannya dibandingkan dengan perempuan (termasuk anak perempuan). Selain itu, lebih banyak nama laki-laki penting yang dikutip dalam buku teks dibandingkan dengan nama penting dari kaum perempuan.

Stereotype gender: hal ini masih berlaku sebagaimana ditunjukkan dalam pemilihan spesialisasi di sekolah kejuruan dan perguruan tinggi, yang mengindikasikan satu bentuk “diskriminasi sukarela” yang dilakukan baik laki-laki atau pun perempuan. Ilmu-ilmu sosial umumnya didominasi oleh para siswa atau mahasiswa perempuan, sedangkan ilmu teknik didominasi oleh laki-laki.

Peraturan pemerintah yang ada telah mendorong kesataraan gender dalam pendidikan, namun masih kurang adanya program-program untuk secara langsung mengarah pada ketidaksetaraan dalam pendidikan dengan meningkatkan akses dan partisipasi dari anak-anak yang tidak beruntung, termasuk anak-anak perempuan dari keluarga miskin dan termarginalkan.

Kesadaran dan keahlian tentang gender yang kurang masih tetap ada walaupun gender yang bertendensi mandat—hal ini merupakan satu hasil dari permasalahan yang rumit dari kurangnya kontekstualisasi konsep-konsep gender dalam hal yang masuk akal di dalam sosio-budaya dan kepercayaan keagamaan dan tradisi yang ada di Indonesia.

Pernikahan dini: merupakan satu persoalan penting yang terindentifikasi di wilayah tertentu di Indonesia (contoh; Indramayu, Jawa Barat) yang mengakibatkan anak-anak perempuan untuk mengakses dan berpartisipasi dalam dunia pendidikan.

Data perbedaan gender yang kurang dapat reliabel di tingkat nasional dan propinsi menghambat kemampuan di sector pendidikan untuk mempunyai perkembangan melebihi akses dan partisipasinya. Data perbedaan gender digunakan utamanya untuk pelaporan ke komitmen global dan jarang untuk formulasi peraturan dan persiapan proyek.

Itulah keenam hambatan dalam pendidikan perempuan di Indonesia yang harus menjadi perhatian bukan hanya bagi pemerintah, namun juga semua pihak yang berkaitan dengan dunia pendidikan di Indonesia serta seluruh rakyat Indonesia untuk secara bersama-sama memberikan akses dan partisipasinya untuk pendidikan perempuan di Indonesia.

Sumber: hambatan dalam pendidikan perempuan di Indonesia – Unicef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *