hubungan guru-siswa
Gambar: rasya4greatlife

Hubungan Guru-Siswa dan Konsep “Guru Bahasa yang Baik”

Posted on
hubungan guru-siswa
Gambar: rasya4greatlife

Hubungan Guru-Siswa dan Konsep “Guru Bahasa yang Baik” – Penelitian ini membahas dimensi hubungan guru dengan siswa dalam mata pelajaran/kuliah bahasa, mengeksplorasi kualitas yang paling dan tidak diinginkan oleh guru, serta hirarki kualitas tersebut. Telah dinyatakan sebelumnya bahwa kebudayaan yang lebih dominan dalam sebuah kelompok masyarakat tertentu akan menentukan pola komunikasi interpersonal guru-siswa dan pengaruh persepsi siswa terhadap gurunya. Penelitian yang ada sekarang ini mengadopsi beberapa kerangka terkait yang dibangung dalam disiplin ilmu lainnya guna meneliti hal-hal tersebut. Objek penelitiaanya adalah ratusan siswa yang berlajar bahasa Rusia di universitas Malaysia Sabah menggunakan instrumen Gardner; dua pertanyaan yang dipertanyakan berkaitan dengan kualitas bahasa yang paling dan tidak diinginkan oleh guru ditambahkan. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa hubungan keduanya dibangun kedalam dimensi yang dapat diidentifikasi dengan jelas. Analisa kualitatif memperlihatkan bahwa persepsi siswa terhadap “guru yang baik” kurang terkait secara budaya bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya; tiga hal yang paling diinginkan berkaitan dengan kualitas guru (seperti; penyayang/empati, sabar, ramah) semuanya berorientasi pada hubungan keduanya.

Kata kunci: Hubungan Guru-siswa, Pengajaran/Pembelajaran bahasa, karakteristik guru, kebudayaan, konteks pendidikan Asia, Malaysia

Hubungan Guru-Siswa dan Konsep “Guru Bahasa yang Baik”

Pendahuluan

Dua dekade terakhir telah terjadi pergantian dari ranah kognitif ke affektif di bidang pedagogik, serta fakta bahwa suasana kelas dan hubungan guru-siswa dipengaruhi oleh kebudayaan dan sosial yang lebih dominan dalam masyarakat dimana pengajaran/pembelajaran itu terjadi (Cortazzi & Jin, 1996). Penelitian yang sekarang ini memfokuskan pada kelas bahasa dan mengeksplorasi hubungan guru-siswa yang menggunakan kerangka terkait yang dikembangkan dalam disiplin akademik lainnya. Penelitian ini memandang hubungan guru-siswa menggunakan prisma konsep “perbedaan kuasa” dan “hirarki vs. egaliter” yang kembangkan dalam penelitian kebudayaan.

Sungguh sangat membingungkan mengapa pembahasan hubungan interpersonal guru-siswa sangat terbatas, padahal lebih banyak waktu yang digunakan untuk berinteraksi intensif bila dibandingkan dengan waktu penyampaian materi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan. Tujuannya adalah: (1) untuk mengeksplorasi dimensi hubungan guru-siswa seperti yang dirasakan mahasiswa Universitas Malaysia, (2) untuk mengetahui kualitas yang paling dan tidak diinginkan yang ditujukan ke guru bahasa oleh para siswa, dan untuk menilai hirarki kualitas tersebut, (3) untuk meneliti apakah pola referensi mengenai hubungan dengan guru bahasa dan harapan mereka mengenai peranan guru sangat terkait secara budaya. Untuk menganalisa data digunakan menganalisa data; analisa kuantitatif lakukan untuk menentukan dimensi dimana persepsi siswa akan guru bahasa itu terbentuk, dan analisa kualitatif digunakan untuk mendapatkan opini siswa akan kualitas yang paling dan tidak diinginkan dari guru bahasa.

 

Latar Belakang Masalah

Malaysia dihuni oleh masyarakat multi-etnis dan multi-bahasa dimana Bahasa Inggris merupakan pelajaran wajib di sekolah dasar dan menengah pada sekolah negeri. Meski bahasa asing bukan bagian dari kurikulum sekolah, namun kebanyakan mahasiswa lancar menggunakan dua/lebih dua bahasa/dialek. Pembelajaran bahasa asing ataupun lokal diwajibkan bagi mahasiswa UMS yang mendapatkan Band MUET (TOEL Universitas di Malaysia) 4, 5, dan 6. Mahasiswa dibebaskan untuk memilih program yang diberikan universitas ditempuh selama tiga semester dengan tiga jam pertemuan tiap minggunya.

 

Tinjauan Pustakan dan Ruang Lingkup Penelitian Sekarang

Konsep Interaksi Guru-Siswa dan Konteks Kebudayaan

Dalam konteks pendidikan, para peneliti menyatakan bahwa konsep dan pendekatana pengajaran dan pembelajaran berbeda untuk masing-masing kebudayaan (Biggs, 1998). Seperti yang Cortazzi dan Jin (1996) teliti, perilaku guru dan siswa di ruang kelas dibentuk dari “kerangka harapan, tindakan, nilai dan kepercayaan yang tidak diberikan tentang pembelajaran apa yang baik, tentang bagaimana untuk mengajar atau belajar…dan bagaimana pembelajaran bahasa berhubungan dengan hal-hal yang lebih luas akan dasar dan tujuan pendidikan” (hal. 169). Dalam penelitian dewasa ini menyepakati sebuah fakta bahwa dia Asia dan tempat lainnya, kebudayaan secara umum dan kebudayaan dalam pembelajaran secara khusus bukanlah entitas monolitik. Namun, Mangunbai menyarankan, “…ini memungkinkan untuk melihat pola perilaku tertentu, atau tendensi utama dalam sebuah kelompok kebudayaan atau sub-kebudayaan yang memungkinkan seseorang untuk meyebut para siswa sebagai sebuah kelompok” (hal. 24). Penelitian dewasa ini sangatlah mengena dengan adanya dimensi dalam perbedaan kebudayaan dari perspektif hubungan interpersonal: (1) “perbedaan kuasa”, dan (2) “hirarki vs. egaliter”.

Konsep perbedaan kuasa pertama kali dikembangkan oleh Hofstede (1984) dan dikonsepkan sebagai sebuah tingkat perbedaan kuasa, kesejahteraan dan status distribusi pada kebudayaan tertentu (Hofstede, 1991). Hofstede (1986) menyatakan bahwa kelas di kebudayaan dengan tingkat perbedaan kuasa yang lebih tinggi, ada kecenderungan guru akan lebih dihormati dan memegang kontrol yang kuat berjalannya pembelajaran di kelas. Dalam konteks pendidikan Asia, guru menanamkan informasi searah, sebaliknya siswa hanya menerima dan mengingat fakta dan data baru (Cogan, 1995). Di sekolah dengan konteks pendidikan Barat, peranan kebudayaan yang tepat untuk guru adalah sebagai fasilitator dan sumber informasi, sebaliknya siswa aktif bertanya selama pelajaran berlangsung (Andersen & Powell, 1991).

Dimensi “hirarki vs. egaliter” yang dikembangkan oleh Schwartz menantang bahwa sebuah masyarakat dengan nilai-nilai hirarki akan menekankan pada anggota masyarakatnya untuk bertindak/berperilaku sesuai dengan posisi sosial orang lain. Di sisi lain, sebauh masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai egaliter kerja sama antar anggota masyarakat dengan menyampingkan status sosial mereka.

Sripathy (1998) dan Tan (2005) sependapat bahwa konsep guru sebagai teman belajar dalam konteks belajar di Asia tidak tepat karena guru masih dipandang sebagai penyampai materi dan seseorang yang harus dihormati, serta menjadi lingkungan yang berpusat pada guru. Biggs (1998) menantangnya dan menganggap, “interaksi guru-siswa harus dipenuhi rasa hormat yang lebih efektif dalam kebudayaan hirarki dan kolektif” (hal. 730) yang diamini oleh Aldridge dkk. (1999) yang manyatakan bahwa fokus hubungan guru-siswa dari sistem pendidikan yang ditujukan dan berorientasi pada ujian dan hasil adalah perkembangan kemampuan akademik siswa, sedangkan keluarga diharapkan untuk menjaga sisi emosional pendidikan siswa.

Sejumlah penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pembelajaran kebudayaan di Asia dipandang sebagai sebuah tugas serius, bukan sebuah sumber keasyikam; serta mempunyai sistem pendidikan yang didorong dan berorientasi pada ujian dan hasil dimana pola tradisional “guru sebagai mentor” dan “siswa harus patuh” menjadi model komunikasi yang disenangi. Berdasarkan pada argumentasi tersebut, perlu diberikan pertanyaan mengenai interaksi guru-siswa di sekolah dalam konteks pendidikan di Asian:

  1. Dimensi mana yang menyusun interaksi guru-siswa?
  2. Apakah nantinya hubungan emosional antara guru dan siswanya kurang?
  3. Akankah kualitas guru yang paling diinginkan, seperti yang rasakan para siswa, sesuai dengan harapan kebudayaan mengenai peranan guru?

Interaksi guru-siswa dalam pelajaran/mata kuliah bahasa—dan pelajaran/mata kuliah lainnya—dapat dipandang menggunakan paradigma “kebudayaan kecil” yang dicetuskan Holliday (1999) dimana guru dan siswa membentuk “kebudayaan pengajaran” dan “kebudayaan belajar” mereka sendiri yang dapat memberikan kesempatan untuk menyusun gaya hubungan interpersonal guru-siswa yang unik dan cocok untuk kelompok siswa tertentu.

Konsep Gaya Hubungan Psikologi Sosial

Penelitian ini menggunakan sebuah hubungan interpersonal berdasarkan pada penelitian dalam bidang psikologi sosial dimana Hammer (2005) mengembangkan pikiran dari Stenberg (1986) untuk menyesuaikan dengan konteks kelas dan digunakan untuk menilai gaya pengajaran berdasarkan pada tiga dimensi: imej yang terlihat (afektif), hubungan dengan siswa (perilaku), dan transfer pengetahuan (kognitif).

Penelitian Kualitas yang Diinginkan pada Orang Lain

Penelitian pada karakteristik personal yang diinginkan merupakan sebuah area yang dikembangkan dengan bail dalam ranah psikologi sosial. Rangkaian kualitas yang diinginkan dan hirarki kualitas tersebut akan berbeda yang tergantung pada dasar dan jenis interaksi sosial, dan juga konteks sosial-budaya . Oleh karena itu, akan masuk akal untuk mengambil hipotesis bahwa imej “guru baik” seperti yang dirasakan oleh para siswa yang berasal dari latar belakang budaya berbeda akan sangat beragam.

Penelitian pada Kualtias Guru yang Diinginkan

Buskist dkk. (2002) melakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap kualitas yang harus “dimiliki” seorang guru menghasilkan 28 sifat yang lebih dari separuhnya didominasi oleh dasar-dasar interpersonal; lima karakteristik teratas adalah memahami, menarik, hormat, riang, dan penyayang. Penelitian lain, PozoMuños dkk. (2000) menggunakan teknik Perbedaan Semantik untuk menilai opini mahasiswa Spanyol tentang kuliah mereka dan untuk melihat kualitas yang ditujukan “guru ideal”; yang mengindikasikan bahwa siswa menaruh hormat yang tinggi pada kualitas yang secara langsung terkait pada kompetensi professional guru dan juga kemampuan untuk mewujudkan hubungan baik dengan siswa/mahasiswa.

Penelitian pada Karakteristik Guru Bahasa

Girard; Prodomou; Brosh (dalam Borg, 2006); dan Borg (2006) mengidentifikasikan tujuh kualitas guru bahasa yang diinginkan: membuat kelas menjadi menarik, menekankan pengucapan yang baik, memberikan penjelasan yang jelas, mempunyai pengetahuan yang baik dalam bahasa yang diajarkan, tidak pilih kasih, melibatkan siswa dalam kegiatan kelas, dan sabar. Dan masih banyak lagi kajian dan penelitian yang telah dilakukan dalam kaitan model baik interaksi guru-siswa yang dilakukan dalam konteks pendidikan bahasa di Asia.

Teknik Perbedaan Semantik dan Instrumen Gardner

Gardner menggunakan teknik perbedaan semantik dan menyusun 25 skala dengan tujuh rangkaian kesatuan terdiri dari reaksi yang sangat positif hingga yang sangat negatif, dan nilai tengah skala tersebut menunjukkan opini netral. Metode yang dikenalkan Osgood dkk. (1957) ini menyatakan bahwa skala perbedaan semantik dapat digunakan untuk mengukur perilaku dari orang-orang atau kelompok yang berbeda terhadap sebuah fenomena, ide, orang, atau konsep. Analisa data yang diperoleh dari skala perbedaan semantik seringkali dilakukan melalui analisa faktor.

Metode Penelitian

Populasi

Populasi penelitian ini adalah 100 mahasiswa yang belajar Bahasa Rusia di Universitas Malaysia Sabah (UMS) yang diajar oleh seorang penutur asli. Semuanya adalah penutur Bahasa Inggris yang baik dibuktikan dengan lolosnya dalam Band MUET 4, 5, atau 6 yang memungkinkan mereka untuk mengikuti mata kuliah bahasa asing di universitas.

Instrumen

Skala dan tujuh kesatuan instrumen Gardner digunakan dalam penelitian ini, meski dilakukan beberapa modifikasi di dalamnya. Pertama, perubahan judul untuk menyesuaikan dengan inkuiri sekarang. Kedua, demografis responden ditempatkan sebelum skala. Ketiga, untuk menyesuaikan susunan tiga pihak hubungan guru-siswa dikelompokkanlah kata kerja ke dalam tiga kelompok atau tema; imej yang terlihat (afektif), hubungan dengan siswa (perilaku), dan transfer pengetahuan (kognitif). Penentuan kata sifat dalam tema tersebut perlu memperhatikan tingkat keterlibatan dan jenis interaksi yang dibutuhkan siswa/mahasiswa untuk membentuk opini tentang masing-masing karakteristik personal.

Bagian kedua dari instrumen tersebut terdiri dari dua pertanyaan terbuka: (1) “Menurut anda, karakteristik dan personaliti apa yang seharusnya guru bahasa miliki?”, dan (2) “Dapatkan anda menggambarkan karakteristik guru bahasa yang paling diinginkan?”.

Pengumpulan Data

Penelitian yang dilakukan pada tahun akademik 2006/2007 ini memberikan kuisioner dalam Bahasa Inggris pada mahasiswa dan langsung dijawab di kelas. Penjelasan singkat dan latihan singkat bagaimana untuk menilai skala perbedaan semantik diberikan seperti yang diuraikan Gardner (1985). Setelah selesai, formulir langsung dikumpulkan.

Analisa Data dan Temuan Empiris

a.    Hasil Analisa Faktor

Analisa faktor mengidentifikasi tiga komponen yang mempunyai nilai eigen lebih besar daripada nilai tolok. Ketiganya menunjukkan 58,14% dari total variasi 25 item instrumen Gardner.

Komponen 1: imej yang terlihat (afektif) menunjukkan hanya ada dua item yang sebenarnya ditempatkan dalam tema teridentifikasi menggunakan analisa faktor.

Komponen 2: Transfer pengtahuan (kognitif) menunjukkan hasil yang paling konsisten diantara ketiga komponen dengan teridentifikasinya semua kata sifat dalam komponen ini.

Komponen 3: hubungan dengan siswa (perilaku) menunjukkan bahwa item “sopan”, “ramah”, dan “sabar” diketahui siswa karena berhubungan dengan dimensi yang sama dalam interaksi guru-siswa.

b.    Hasil Analisa Kualitatif

Setelah siswa menjawab dua petanyaan terlihat adanya setidaknya ada tiga karakteristik untuk masing-masing pertanyaan.  Terdapat lima puluh enam dalam daftar sebagai kualitas guru yang paling diinginkan; serta lima puluh sembilan menggambarkan perilaku guru yang paling tidak diinginkan.

Setelah daftar awal telah dikumpulkan dan dianalisa,  kualitas secara semantik dikombinasikan bersama-sama dan total jumlah respon untuk kelompok sinonim dihitung. Hasilnya, daftar kualitas yang diinginkan terdiri dari 31 item sedangkan daftar ciri yang paling tidak diinginkan terdiri dari 24 item. Mayoritas dari kata sifat dalam daftar berkaitan dengan kualitas personal (seperti, ramah, riang, dan tulus) dibandingkan dengan kualitas profesional (seperti, kemampuan mengajar, terorganisasi, pemberian tugas rumah).

Pembahasan dan Kesimpulan

Diantara ketiga dimensi yang diidentifikasi menggunakan analisa faktor, dimensi kognitiflah yang paling kohesif, yang hanya terdiri dari kata sifat yang untuk sementar kita tempatkan dalam tema. Sehingga temuan ini mendukung Dalil 1 dari penelitian sekaran ini bahwa dimenasi kognitif dalam hubungan guru-siswa akan terlihat paling menonjol.

Berkenaan dengan tujuan kedua penelitian sekarang ini, analisa dari pertanyaan yang diajukan menguak persamaan-persamaan antara temuan penelitian ini dan penelitian sebelumnya. Diantara sepuluh besar item kualitas positif dan negatif guru bahasa dicantumkan dalam penelitian ini, beberapa diantaranya telah dicantumkan dalam penelitian lain (lihat Tabel 4 dan 5). Dari kedua tabel tersebut dapat dikatakan bahwa karakteristik/sifat personal seorang guru sangat penting bagi responden dimana mereka acapkali menyebutkannya dibandingkan dengan kapasitas profesional guru. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kualitas personal yang buruk dan kemampuan interpersonal yang kurang merupakan bagian dari kualitas yang tidak diinginkan yang dimiliki oleh guru bahasa.

Berkenaan dengan tujuan ketiga penelitian sekarang dan Proposisi 2, hasil penelitian menunjukkan hal berlawanan dengan persepsi bahwa para siswa/mahasiswa di Asia nyaman dengan figur guru bahasa yang otoriter dan jauh secara emosional. Hasil ini menawarkan sebuah pandangan menarik ke dalam psikologi siswa, yakni masih adanya gap atau jarak antara bagaimana siswa merasahubungan dengan guru bahasa-nya dan bagaimana mereka inginkan dari hubungan antar keduanya.

Beberapa pembatasan terdapat dalam penelitian ini. Pertama, subjek/responden hanya dari universitas dan program bahasa yang sama sehingga temuan ini mungkin tidak secara otomatis dapat diterapkan pada populasi yang lebih luas. Kedua, semua mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah para siswa yang berhasil mempelajari bahasa dengan diraihnya hasil yang baik dalm MUET dan memenuhi syarat untuk mendaftar ke program bahasa asing di universitas.

Kesimpulannya, hasil dari analisa kualitatif yang telah dilakukan dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa “kebudayaan” tidak mengesampingkan preferensi atau kesukaan siswa/mahasiswa berkaitan dengan pola interaksi guru-siswa dan karakteristik guru. Fakta ini menggarisbawahi sebuah kenyataan bahwa meskipun beberapa aspek interaksi guru-siswa berupa kebudayaan spesifik, persepsi tertentu dipegang dan disebarkan secara universal oleh para siswa dari latar belakang pendidikan yang berbeda. Hasil penelitian ini juga mendorong pada perhatian yang lebih terhadap “kebudayaan kecil” dalam seting ruang kelas bahasa dan bagaimana ide tersebut dapat dimasukkan ke dalam pedagogik bahasa. Guru bahasa dapat memikirkan sebuah kemungkinan untuk mengembangkan dan memajukan “kebudayaan kecil” dengan masing-kelompok siswa, meski pada kenyataannya tidak ada solusi jadi untuk bagaimana itu diperkaya di kelas karena atmosfer kelas tidak akan pernah sama. Oleh karena itu pengembangan “kebudayaan kecil” bisa berupa proses trial and error yang berdasarkan pada intuisi, pengalaman, sistem nilai, dan pengetahuan guru tentang siswanya.

Judul asli:Hubungan Guru-Siswa dan Konsep “Guru Bahasa yang Baik”: Apakah Kebudayaan Berpengaruh? 

Penulis: Larisa Nikitina dan Fumitaka Furuoka - Universitas Malaysia Sabah, Malaysia

Penerjemah: Mochlisin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *