Kemerdekaan nan Fitri yang Ternodai

Posted on
kemerdekaan nan fitri yang ternodai
Foto: centroone.com

Kemerdekaan nan Fitri yang Ternodai – Dalam waktu yang selisih cuma 1 hari, 17 Agustus dan 19 Agustus 2012, rakyat Indonesia merayakan dua kemenangan sekaligus, kemenangan sebagai Bangsa Indonesia yang memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 67 dan kemenangan setelah berpuasa selama bulan Ramadhan. Sudah sangat sepatutnya buat Bangsa Indonesia dan seluruh komponen yang ada untuk mensyukuri nikmat luar biasa yang diberikan Allah SWT ini; untaian rasa syukur, harapan dan do’a seolah menjadi keharusan.

Sebagai generasi penerus bangsa ini, kita dapat memeriahkan HUT Kemerdekaan ini dengan mengadakan lomba antar warga di tingkat RT-RW, tingkat desa atau bahkan tingkat yang lebih tinggi. Dapat juga kita memeriahkannya dengan acara bakti sosial di lingkungan sekitar kita, atau ikut ‘ngopeni’ situs peninggalan masa lalu. Atau dalam bentuk jangka panjang dalam upaya mengisi kemerdekaan ini laiknya dengan belajar guna mempersiapkan masa depan bangsa yang lebih baik. Pun demikian dengan mengisi hari raya Idul Fitri ini, memperat silaturahmi dengan tetangga di sekitar rumah atau pun dengan sanak keluarga jauh yang mungkin jarang mempunyai kesempatan untuk bertemu. Silaturahmi ini seyogyanya dapat dijadikan modal untuk persaudaraan antar sesama dan dalam lingkup nasional menjadi modal persatuan bangsa.

Kemerdekaan nan Fitri yang Ternodai

Namun terasa sangat miris ketika kemerdekaan nan fitri ini ternodai oleh aksi-aksi anarkis. Itulah setidaknya yang saya dan banyak orang di kampung rasakan menanggapi aksi provokatif seorang pemuda yang berujung pada aksi anarkis warga yang melibatkan dua kampung berdekatan. Noda di malam fitri ini sungguhlah sangat ironis, di malam yang seharusnya dimeriahkan dengan gema takbir, tahmid, dan tahlil justru berubah tawuran warga antar kampung yang menelan 1 jiwa tewas sia-sia. Peristiwa di malam Idul Fitri ini terjadi di kampung pesisir pantai utara yang hanya berjarak kurang dari 10 KM dari jalur pantura.

Dari cerita yang beredar, tawuran antar dua kubu yang memang sering terjadi konflik ini langsunglah membara ketika salah seorang pemuda dari salah satu kampung melewati kampung lain dengan kondisi mabuk. Ketika di depan salah satu masjid yang di dalamnya berkumpul sejumlah orang untuk takbiran, si pemuda yang mabuk tadi melemparkan botol minuman keras ke arah masjid. Sontak hal itu langsung menyulut amarah warga. Hingga tawuran pun tidak terelakkan lagi hingga 1 nyawa harus lenyap. Hingga pagi harinya pun suasana masih agak mencekam dengan masih adanya penjagaan dari tim keamanan. Namun, kabar ini kayaknya luput dari pemberitaan media lokal atau pun nasional.

Menanggapi hal tersebut, perlu adanya upaya-upaya dari berbagai pihak untuk terus mengupayakan perdamaian. Baik dengan mempertemukan tokoh-tokoh dari dua kampung yang bertetangga tersebut atau pun dengan cara penanaman nilai-nilai kebersamaan dan persatuan untuk para siswa sekolah dan warga secara keseluruhan. Kita telah terlalu bosan mendengar kabar akan tawuran antar kampung, apalagi di hari dimana kita semua dalam suasana memperingati kemerdekaan dan Idul Fitri.

SA – Kemerdekaan nan Fitri yang Ternodai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *