Komitmen Organisasi

Posted on

Komitmen Organisasi – Komitmen organisasi muncul pada tahun 1970an dan 1980an sebagai faktor kunci hubungan antara individu dan organisasi. Ada yang berpendapat bahwa komitmen organisasi mengacu pada kekuatan identifikasi karyawan dan keterlibatan karyawan dalam organisasi.

Allen dan Meyer mengindikasikan tiga tema umum dalam konseptualisasi sikap dari komitmen organisasi yakni pengikatan afektif (effective attachment), biaya yang dirasakan (perceived cost), dan kewajiban (obligation). Dari tiga dimensi komitmen tersebut kemudian diindikasikan sebagai berikut:

  1. Komitmen Afektif: ini digambarkan sebagai pengaturan emosional pegawai, diidentifikasikan dengan keterlibatan dalam organisasi. Komitmen afektif melibatkan tiga aspek yakni pembentukan, pengatutan emosi terhadap organisasi, identifikasi dan keinginan untuk mempertahankan keanggotaan organisasi. Dengan demikian maka akan terdapat identifikasi psikologis yang merupakan kebanggaan menjadi bagian dari organisasi tersebut. Komitmen afektif ini mempunyai korelasi yang positif terhadap hasil, seperti turn over, absensi, kinerja pegawai dan perilaku anggota organisasi.

    komitmen organisasi
    Gambar: google
  2. Komitmen Kalkulatif (keberlanjutan): hal ini merupakan keinginan individu pada suatu pegawaian dalam organisasi untuk waktu yang lama. Oleh Allen dan Meyer didefinisikan sebagai bentuk pengikatan psikologis pada organisasi yang direfleksikan sebagai persepsi pegawai untuk tetap bekerja dalam organisasi. Romzek mendeskripsikan tipe ini sebagai pengikatan transaksional dengan mengargumentasikan bahwa perhitungan pegawai sebagai investasi dalam organisasi yang didasarkan pada pencapaian yang diperoleh dari organisasi; serta dijelaskan pula bahwa penurunan investasi merupakan buntut dari kehilangan alternatif dari yang dirasakan oleh pegawai. Sedangkan Allen dan Meyer berargumentasi bahwa suatu komitmen individual pada organisasi dapat didasarkan pada persepsi pegawai dalam menanggapi lingkungan di luar organisasi. Sehingga komitmen keberlanjutan menggambarkan perhitungan dari biaya untuk meninggalkan organisasi atau keuntungan bila tetap berada dalam organisasi.
  3. Komitmen Normatif: dimensi ketiga dari komitmen organisasi ini adalah komitmen normatif yang menggambarkan perasaan wajib untuk melanjutkan pekerjaan. Para pegawai dengan tingkat komitmen yang tinggi merasa sejalan dengan organisasi (Allen & Meyer). Di sisi lain Randall dan Cote memandang komitmen normatif sebagai kewajiban moral pegawai pada organisasi. Dijelaskan lebih lanjut bahwa ketika pegawai mulai merasa terjadi pengembangan diri oleh organisasi maka merasa wajib untuk tetap bekerja pada organisasi.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa komitmen organisasi merupakan komitmen individu pada organisasinya yang terdiri dari tiga dimensi, yakni: komitmen afektif, komitmen kalkulatif (keberlanjutan) dan komitmen normatif. Pertimbangan tiga dimensi tersebut mengindikasikan perbedaan komitmen organisasi yang didasrkan pada motif yang mendasari pegawai dan hasil yang diterima dari organisasi.

Komitmen OrganisasiCuplikan dari artikel berjudul Analisis Gender Tentang Dimensi Stres Kerja, Kepuasan Kerja dan Komitmen Kerja (Studi Kritis Perilaku Dosen Wanita Pejabat Struktural PTS di Kota Malang) yang ditulis oleh Alifiulahtin Utaminingsih. Silahkan baca abstraknya di postingan sebelumnya dan juga tentang postingan tentang stres kerja dan kepuasan kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *