Kritik iklan yang menggunakan survei

Posted on

Kritik iklan yang menggunakan survei ini akan menyoroti iklan yang seolah menggunakan data hasil survei yang tujuannya untuk menggiring masyaratakat untuk menggunakan produk tersebut. Karena kritik iklan yang menggunakan survei ini memerlukan angka-angka matematika, maka sebagai pendahuluan akan saya masukkan sekelumit cerita masa lampau tentang pelajaran matematika. OK, nikmati saya kritik iklan berikut ini.

Siapa yang tidak suka dapat nilai 10? Mungkin tidak ada yang menjawab ‘tidak suka’. 10 itu sempurna setelah ditemukannya angka 0 oleh Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. di jaman kekhalifahan yang oleh kebanyakan orang menganggap bahwa 10 itu sempurna dan sempurna itu hanya milik Tuhan. Ketika masih kuliah penulis mendengar A itu milik tuhan (dalam hal ini A=sempurna), AB milik dosen dan para mahasiswa hanya berhak dapat B. Dan masih teringat, meski hanya sekali seumur hidup, ada angka 10 di raport penulis untuk mata pelajaran Matematika saat penulis masih kelas 2 sekolah dasar, hampir dua dekade yang lalu. Pada saat itu, belum kenal ada apa itu facebook pun twitter dan media sebangsanya untuk sekedar mengungkapkan betapa bangganya penulis.

Televisi yang merupakan satu media ampuh yang telah hadir di banyak ruang keluarga di pelosok dunia telah menghipnotis pemirsanya untuk tetap setia di depannya. Di tengah serbuan acara gosip dan musik seperti saat sekarang ini, seakan kita harus terus menahan dahaga akan tayangan yang menyejukkan hati, menyimpan pilu, dan mencerdaskan otak. Channel A menayangkan mesranya Ayu Ting-ting yang liburan bersama pacar dan keluarnya, Channel B mengabarkan Krisdayanti akan segera mendapatkan momongan lagi, Channel C menayangkan atraksi “debus” memotong-motong stereofoam, et cetera blah blah blah. Hingga pada akhirnya semua channel seragam menampilkan iklan.

Apa kritik iklan untuk video di atas? OK, lanjut ke topik kritik iklan kembali dech.

Terkadang pemirsa itu aneh—termasuk penulis—dimana ketika sinetron atau hot gossip yang ditontonnya harus berubah menjadi tayangan seorang bos yang berjoget-joget di tengah-tengah rapat dan kemudian lenyap atau tanyangan super kreatif dari produk yang katanya dapat menyebabkan impotensi bagi para penikmatnya. Bukankah mereka-mereka itu (baca: iklan) merupakan urat nadi bahkan nyawa bagi pertelevisian. Meski kadang juga penulis merasa jengkel namun penuh rasa iba dan kasihan ketika harus melihat para bidadari jatuh dari langit hanya untuk menikmati harumnya parfum yang sama dengan yang penulis pakai. Dari sini penulis dapat asumsikan secara sembarang alias ngawur bahwa 9 dari 10 pemirsa akan mengganti channel ketika tayangan favoritnya berubah jadi serangkaian reklame kilat sekira 30 detik untuk masing-masing. Terus hubungannya dengan kritik iklan apa ya? Mana kritik iklannya?

Bisa saja asumsi penulis di atas salah besar, karena memang penulis tidak menyediakan sumber data survei yang dapat setidaknya menyatakan sedikit kebenaran akan asumsi tersebut. Dan ijinkan sekali lagi bagi penulis untuk mengasumsikan 9 dari 10 orang yang membaca ini tidak sepakat dengan pernyataan di atas, atau bebaskan pula penulis untuk mengasumsikan bahwa 9 dari 10 itu justru mengamininya. Sebagaimana 9 dari 10 anak menyukai susu formula A yang katanya lebih enak. Inilah sekelumit kritik iklan.

Statistik merupakan satu mata kuliah yang amat sulit untuk sebagian orang dan sulit untuk sebagian yang lain; itu setidaknya yang penulis hanya bisa dengar karena semasa kuliah tidak mendapatkan mata kuliah tersebut. Dan karena itu juga mungkin hasil karya final project penulis yang seadanya dan bisa dikatakan ancur-ancuran. Dan untuk itu mungkin amat sangat patut untuk mendapatkan nilai 0 dari 10, atau itu memang suatu keharusan. Dan karena itu pulalah mungkin penulis tidak memahami bagaimana cara kerja survei dan hasil penelitian sebagaimana yang biasa ditampilkan di berita Met*o atau TV*ne, dan yang lebih-lebih adalah hasil survei yang ditunjukkan dari iklan-iklan yang bisa ada di media reklame digital, televisi. 7 dari 9 perempuan menyukai shampoo P dan shampoo H adalah shampoo #1 di dunia merupakan 2 dari ratusan iklan yang sama-sama menampilkan data untuk menarik pemirsa bahwa produk mereka lebih unggul dari pada yang produk tetangga. Penutup kritik iklan ini apa?

Untuk alasan tersebut mungkin penulis perlu untuk menanyakan guru kelas 2 sekolah dasar yang dulu memberikan nilai 10 untuk matematika dan memintanya untuk berpikir ulang serta selanjutnya mengubah nilai yang teramat sempurna itu, tidak pantas penulis mendapatknya. Pun patut menyalahkan diri sendiri karena tidak mengambil mata kuliah statistik saat kuliah dulu. Itu mungkin jalan keluar yang dapat menghilangkan galau penulis yang tak mengerti mengapa 6 dari 8 cewek lebih suka yang bersayap dan 7 dari 9 lebih suka yang lentur.

OK. Channel telah kembali menayangkan sekelompok gadis “lip synchronizer” yang sedang memamerkan koreo bungkuk kanan-kiri sembari tangan melambai di atas kepala. Duduk manis sebentar dan akhirnya penulis harus matikan televisi karena “gak, gak, gak kuat…….”

Kritik iklan… Sampai ketemu lagi.

 

3 thoughts on “Kritik iklan yang menggunakan survei

  1. Tolong donk hari sabtu acara ini kalo udh jadi tayangan ulang, dipilih lah masa acara dunia lain yg gak mutu juga dimasukin…apa acara tayang ulang sabtu cuman sekedar isi kekosongan acara trans7 makanya diisi acara masih dunia lain yang gak bermutu??????

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *