Pendidikan anak dan kekuasaan

Posted on

Pendidikan anak dan kekuasan mempunyai posisi yang sama pentingnya dalam hal pertanggungjawaban terhadap apa yang dibebankan pada diri manusia. Pendidikan anak paling utama dan pertama menjadi satu amanah yang diberikan Tuhan pada orang tua; demikian halnya juga kekuasaan yang baik dunia atau pun akhirat (bagi yang mempercayai akan adanya hari setelah kematian nantinya) akan dimintai pertanggungjawabannya meski sekecil apa pun bentuk kekuasaan tersebut. Dua frase—pendidikan Anak dan kekuasaan—ini sebenarnya adalah dua tema khotbah Jum’at yang saya ikuti; yang pertama merupakan tema khotbah di masjid kampung saya siang tadi (Jum’at, 23 Maret 2012 yang kebetulan bertepatan dengan hari raya Nyepi bagi umat Hindu) dan yang kedua adalah salah satu isi materi khutbah di masjid Pengadilan Tinggi Negeri Jawa Tengah sekira 3 Februari 2012 yang lalu—berdekatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. pendidikan anak
Tema pendidikan anak yang menjadi bahasan utama siang tadi mungkin sudah untuk kesekian kalinya diberikan. Saya menganggapnya bukan karena si khotib kekurangan bahan, namun lebih pada merupakan satu kontrol sosial yang mengingatkan para orang tua akan pendidikan anak-anak mereka, dalam hal ini pendidikan agama; namun jika saya boleh menambahkan si khotib juga seharusnya memberikan juga pandangannya tentang pendidikan formal pun juga informal. Keseimbangan akan kebutuhan pendidikan agama dan formal pun informal akan menumbuhkan jiwa yang lapang, mampu melihat dan menghargai perbedaan, demokratis, serta yang menjadi penting adalah hati dan jiwa yang penuh amanah. Kemampuan mumpuni dalam keilmuan bidang duniawi akan selalu diimbangi dengan keluasan pengetahuan agama yang menjadi kontrol kehidupan diri masing-masing; dengan hal itu kemungkinan munculnya jiwa-jiwa khianat (baca: korup) dapat ditekan.
Amanah akan kekuasaan yang sedang disandangnya akan menjadi hulu dari keadilan dan kesejahteraan umat yang dipimpinnya. Setidaknya itu yang saya tangkap dari tema khutbah yang ruangan masjid ber-AC dekat dengan ruang sidang di Pengadilan Tinggi Negeri Jawa Tengah. Sikap amanah ini mempunyai posisi yang istimewa dan menjadi salah satu sifat dari Nabi; yang mungkin di kehidupan modern sekarang ini menjadi barang yang sangat mahal dan langka. Tema ini menjadi sangat penting bukan hanya karena saat itu mendekati Maulid Nabi Muhammad SAW, namun lebih dari itu karena mungkin saja beberapa diantara mereka yang menjadi jamaah adalah mereka yang mempunyai kekuasaan atau barangkali satu atau dua orang diantara jamaah sedang menjadi pesakitan karena merupakan tersangka dalam kasus korupsi. Sudah menjadi mafhum bahwa banyak dari petinggi negara ini harus berurusan dengan hukum dan akhirnya digelandang ke bui; salah satu faktor mengapa mereka akhirnya harus berhadapan dengan KPK adalah karena mereka tidak mampu menjaga amanah yang telah diberikan di samping dengan faktor-faktor lainnya.
Pendidikan anak tentang moral dan nilai-nilai kejujuran menjadi modal dan fondasi dasar untuk kehidupan mereka nantinya, seperti semua pahami bahwa penanaman sikap dan nilai sedini mungkin akan mudah terserap dan seolah menjadi bagian dari aliran darah mereka. Meskipun kita tidak bisa menutup mata bahwa faktor lingkungan dan situasi yang ditemui nantinya juga akan berpengaruh, tapi setidaknya mereka sudah punya modal nilai dan sikap yang sudah ditanam dan dibiasakan sejak dini yang menjadi kontrol diri. Saya rasa si khotib paham benar bahwa pendidikan anak tentang nilai kejujuran dan amanah menjadi kunci kontrol kekuasaan nantinya.

Frase pendidikan anak dan kekuasaan mempunyai persamaan bahwa keduanya meminta pertanggungjawaban pada siapa pun yang dibenaninya sebagaimana secuil kutipan ayat Al-qur’an yang menyatakan bahwa “…siapa pun diantara kita ini adalah pemimpin yang harus bertanggung jawab atas apa yang kita pimpin…”; pendidikan anak menjadi tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan Negara sedangkan setiap kekuasaan menjadi tanggung jawab pribadi-pribadi pada yang memberikan kekuasaan tersebut—masing-masing merupakan amanah. Keduanya juga saling berkaitan dimana pendidikan anak yang mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kejujuran dan amanah nantinya akan menjadi landasan siapa saja yang memegang kekuasaan.

 

Pendidikan anak dan kekuasaan.

Kampung Limbangan, 23 Maret 2012.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *