Pengajaran dan Pemecahan Masalah secara Bersamaan

Posted on

Keahlian bekerja sama dan pemecahan telah seringkali diidentifikasi oleh para pimpinan bisnis menjadi kompetensi utama; oleh karena itu metode pembelajaran berbasis pada masalah dan pembelajaran berbasis pada kelompok telah dikembangkan. Meskipun, fokus dari metode tersebut terletak pada pengajaran satu keahlian saja. Argumentasi kunci untuk penerapan pengajaran berbagai keahlian secara bersama adalah bahwa kemampuan untuk memecahkan sebuah permasalahan dunia nyata yang tidak tersusun dalam kelompok merupakan satu hal yang paling dibutuhkan. Oleh karena itu, penulis menggambarkan rancangan dan implementasi materi keahlian pemecahan masalah satu kelompok untuk mahasiswa tingkat sarjana, yang nantinya mereka akan kerjakan dalam sebuah karya pemecahan kreatif secara bersama-sama untuk satu semester selagi pembelajaran dan keahlian pengembangan tersebut sesuai dengan tahapan mereka dalam proses perkembangan kelompok dan pemecahan masalah. Metode ini mendorong kurangnya sikap kritis dari para pemimpin bisnis bahwa lulusan baru secara teknis seringkali belum siap untuk memecahkan masalah keorganisasian sehari-hari.

Metode Pengajaran Berbasis Kelompok dan Permasalahan

Pembelajaran berbasis permasalahan awalnya diterapkan dalam sekolah kesehatan, dan juga diterapkan dalam kurikulum pemasaran dan manajemen, yang mengubah seluruh kurikulum pemasaran dan manajemen menjadi pendekatan berbasis pada permasalahan untuk memfasilitasi mahasiswa dengan komunitas pembelajaran yang keahliannya di dalamnya “untuk mengevaluasi permasalahan bisnis ke dalam konteks sosial yang lebih luas.” Pendekatan dalam metode ini sangatlah beragam, namun setidaknya mempunyai dua pendekatan utama; (a) permasalahan menjadi titik pusat perhatian, dan (b) upaya untuk memecahkan masalah digunakan sebagai dasar pembelajaran tentang wilayah isi tertentu, seperti hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan, hukum, atau pemasaran.  Permasalahan yang diberikan biasanya disusun secara buruk dan berasal dari beragam segi kehidupan yang memberikan kesempatan untuk pengalaman kehidupan nyata dan menciptakan konteks pembelajaran yang berarti. Berdasarkan pendekatan pengajaran dari para ahli konstruktifisme, secara umum pembelajaran berbasis permasalahan mensyaratkan mahasiswanya untuk bertanggung jawab dalam menentukan apa yang mereka butuhkan untuk mengetahui tentang permasalahan agar mampu untuk menegaskan permasalahan pembelajaran dan menemukan materi pembelajaran yang cocok.

Dalam pembelajaran berbasis permasalahan, para mahasiswa dapat berkerja secara individual atau pun dalam kelompok; namun pembelajaran dalam kelompok lebih direkomendasikan untuk menguasai berbagai keahlian dan membantu perkembangan kolaborasi. Karena kolaborasi mensyaratkan bahwa anggota masing-masing kelompok mampu untuk mengapresiasi perbedaan individual dan berkomunikasi dengan yang lainnya, dinamika tim harus menjadi bagian dari proses pembelajaran siswa dalam pembelajaran berbasis permasalahan.

Sebaliknya, pendekatan pembelajaran berbasis kelompok merupakan sebuah strategi instruksional khusus yang dirancang untuk mendukung perkembangan kelompok yang berkinerja tinggi dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk menggunakannya dalam tugas-tugas pembelajaran. Sama halnya dengan pendekatan sebelumnya, pendekatan ini mempunyai dua tujuan pembelajaran dalam menanamkan ilmu pengetahuan yang signifikan dan pada saat yang sama memberikan mahasasiswa sebuah struktur yang memfasilitasi pembelajaran bagaimana untuk menerapkan isi pembelajarannya.

Pembahasan

Telah dijelaskan sebuah strategi pengajaran bahwa struktur yang secara terus menerus kelas tersebut fokus pada perkembangan kelompok dan pada pemecahan masalah untuk mengajarkan pengetahuan isi dan rangkaian keahlian untuk memahami dan menerapkan pemecahan masalah kreatif dan dinamika kelompok yang berahasil. Tidak seperti penggunaan tradisional, kedua metode pengajaran tersebut mempunyai alasan utama. Pertama, dahulu kedua metode tersebut telah cenderung untuk menggunakan baik pembelajaran berbasis kelompok atau pun pembelajaran berbasis permasalahan sebagai struktur utama materinya. Kedua, keduanya secara tradisional telah memfokuskan pada wilayah pengetahuan lainnya, jarang sekali mengajarkan pengetahuan substantif dalam wilayah pemecahan permasalahan kreatif dan dinamika kelompok. Ketiga, perhatian yang terus menerus untuk kedua kelompok dan keahlian pemecahan masalah berlaku untuk mengintegrasikan pembelajaran dua wilayah pengetahuan yang berbeda.

Beberapa keuntungan dari pendekatan terintegrasi adalah bahwa mahasiswa belajar dan mempraktekkan keahlian pemecahan masalah dan kerja sama secara bersamaan ketika mereka berkembang melalui tahapan masing-masing proses selagi bekerja kelompok dalam permasalahan nyata. Selain itu, pembelajaran ini terjadi dengan  cara yang agak karut-marut selagi persoalan tersebut muncul bersamaan dengan permasalahan dan dinamika personal. Munculnya persoalan tersebut dan pembelajaran lebih tepatnya menggambarkan keaslian tatanan karya yang mahasiswanya disiapkan utnuk dan oleh karena itu seharusnya meningkatkan relefansi dan retensi pembelajaran bahkan diluar yang ditemukan bersamaan dengan pendekatan pembelajaran berbasis permasalahan dan kelompok.

Dengan menggunakan sebuah permasalahan lokal yang nyata yang diidentifikasi oleh para mahasiswa—bukan instruktur—sangatlah bergunan untuk beberapa alasan. Pertama, mahasiswa dengan pengalaman kerja yang minim didorong untuk berinteraksi dengan para manajer dan para pekerja dalam organisasi sebenarnya, dan mahasiswa dengan pengalaman kerja diberikan permasalahan di organisasi yang berbeda dari organisasi-organisasi yang mana mereka telah bekerja di dalamnya. Di sisi yang lain, para pebisnis diberikan kesempatan untuk memberikan nasehat pada mahasiswa di universitas lokalnya dan mendapatkan pandangan baru berkaitan dengan permasalahan bisnis mereka tanpa mengeluarkan biaya.

Kedua, mahasiswa bahkan mungkin dapat dilibatkan dalam sebuah permasalahan yang telah mereka pilih dibandingkan dengan persamalahan yang diberikan untuk mereka. Dan juga, para instruktur menekankan bahwa mahasiswa seharusnya memilih sebuah organisasi dan permasalahan yang benar-benar mereka tertarik karena mereka akan bekerja dalam permasalahan tersebut sesuai materi selama satu semester penuh. Mahasiswa juga harus memilih sebuah organisasi yang berkenan untuk mengirimkan satu anggota dalam presentasi kelas kelompok tersebut berkenaan dengan solusi yang diajukan untuk memecahkan permasalahan tersebut. Anggotanya dan anggota dari kelompok lain mengajukan pertanyaan selama presentasi dan memberikan nilai atas presentasi tersebut. Proses ini akan lebih diperhitungkan untuk pemecahan permasalahan tersebut dibandingkan dengan mereka apa yang akan dapatkan jika hanya dinilai dari instruktur yang hanya mengetahui sedikit hal tentang permaslahan tersebut.

Terakhir, analisis permasalahan lokal yang nyata mengajarkan para mahasiswa tentang keragaman yang luas akan permasalahan organisasi yang dihadapi dan bagaimana “kacau” mereka biasanya. Salah satu tujuan pembelajaran berbasis permasalahan adalah untuk membantu mahasiswa mempelajari bagaimana untuk menemukan sumber daya tambahan yang mereka butuhkan untuk memecahkan masalah. Untuk melakukan hal ini dalam proyek permasalahan bisnis yang nyata, mahasiswa seringkali belajar kesulitan dalam mendapatkan informasi yang cukup dan akurat. Mahasiswa juga mempelajari  tantangan lain untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh organisasi, seperti ketidakleluasaan solusi yang dapat diimplementasikan, dsb.

Kunci penting lainnya yang menjadi materi yang berhasil adalah bahwa semua kelompok membuat transisi awal dari analisa objektif dari kelompok lain terhadap analisis pribadi dari kelompoknya sendiri. Ini merupakan wilayah yang sangat sensitif, dan mahasiswa melawan hal ini pada awalnya, memberikan analisis yang sepintas lalu pada kelompok mereka. Oleh karena itu, mahasiswa akan membutuhkan pelatihan untuk mengatasi ketakutan mereka akan komunikasi terbuka dan konflik konstruktif dengan teman mereka dan dengan instruktor.

Pemikiran lain yang perlu untuk diperhatikan ketika merancang materi; yakni ukuran kelas, gaya yang dimiliki oleh instruktur, dan waktu pelaksanaan. Sangat disarankan bahwa kelas terdiri dari tidak lebih 30 mahasiswa, dengan 4 hingga 5 kelompok per kelas. Instruktur yang terlibat seharusnya mencontohkan keahlian interpersonal dan keahlian kelompok yang mana mahasiswa tersebut diminta untuk mengembangkan dan juga gaya kepemimpinan yang sesuai dengan rancangan materi.

Kesimpulan

Karena semakin kompleksnya dunia, maka keahlian pemecahan permasalahan dan kerja sama semakin dibutuhkan juga. Untuk memenuhi tantangan ini, dibutuhkan model kurikulum integratif dan proses pendidikan yang baru. Materi terintegrasi menggunakan keberagaman teknik, tugas, dan pengalaman, yang disajikan tepat pada waktunya, guna memfasilitasi pembelajaran konseptual dan perkembangan keahlisan pemecahan masalahan dan kerja sama.

Keberhasilan materi pembelajaran terletak pada topik yang runtut, fokus pada proyek permasalahan nyata dan perkembangan kelompok yang aktual. Aspek tersebut menunjukkan kekacauan, memunculkan proses pembelajaran, menstimulasi perlakuan kerja sama yang lebih holistik serta pemecahan masalah yang juga lebih reflektif dari situasi kerja yang nyata.

Beragam jenis tugas yang telah dilakukan menganjurkan bahwa hasil dari proses pembelajaran dapat berupa pembelajaran jangka panjang dan bisa jangka pendek. Keberhasilan yang ada sekarang dari tindakan holistik secara langsung menjadi bukti dalam evaluasi mahasiswa akan keahlian kerja sama rekannya di akhir pembelajaran. Penutup, kita meyakini bahwa relefansi dari konsep pembelajaran untuk pengalaman kekinian mahasiswa akan menciptakan keterlibatan yang meningkat dalam pembelajaran dan retensi konsep materi pembelajaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *