konflik

Perkembangan Pemikiran Tentang Konflik

Posted on

konflikKONFLIK – Sebagai makhluk sosial, kita pasti pernah mengalami konflik baik dalam lingkup kehidupan pribadi ataupun dalam lingkungan pekerjaan. Konflik didefinisikan sebagai sebuah proses yang dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif, atau akan memengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi kepedulian atau kepentingan pihak pertama. Hal ini menggambarkan satu titik dalam kegiatan yang sedang berlangsung ketika sebuah interaksi “berubah” menjadi suatu konflik antar pihak.

Banyak diantara kita yang memandang konflik dari satu sisi semata, bahwa konflik hanya mempunyai sisi buruk. Padahal pada dasarnya tidaklah demikian. Dari masa ke masa, pandangan mengenai konflik ini mengalami perubahan. Setidaknya, sebagaimana dijelaskan oleh Stephen P. Robin dalam bukunya yang berjudul “Organization Behaviour” mengelompokkan perkembangan pemikiran tentang konflik ini ke dalam tiga kelompok besar besar. Masing-masing kelompok yang berdasarkan rentang waktunya ini mempunyai pandangan yang berbeda mengenai arti konflik.

Perkembangan Pemikiran Tentang Konflik

1. Pandangan Tradisional

Ini setidaknya menjadi pandangan awal, sekira tahun 1930-an hingga 1940-an, dari masyarakat awan mengenai konflik yang menganggap konflik itu berbahaya dan harus dihindari. Konflik dipandang sebagai akibat disfungsional dari komunikasi yang buruk, tidak adanya keterbukaan dan kepercayaan antar anggota, serta ketidakmampuan para manager atau pimpinan untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan mereka.

Ini merupakan pandangan sederhana. Karena semua konflik harus dihindari, kita hanya perlu mengarahkan perhatian pada sebab-sebab konflik serta mengkoreksi malfungsi ini untuk memperbaiki kinerja kelompok dan organisasi.

2. Pandangan Hubungan Manusia

Pandangan ini berpendapat bahwa konflik adalah kejadian alamiah dalam semua kelompok dan organisasi. Karena konflik tak terhindarkan, mazhab hubungan manusia mendorong kita untuk menerima keberadaan konflik. Pandangan hubungan manusia ini mendominasi teori konflik dari akhir tahun 1940-an sampai pertengahan tahun 1970-an.

3. Pandangan Interaksionis

Pandangan ini mendorong munculnya konflik dengan dasar pemikiran bahwa sebuah kelompok yang harmonis, damai, tenang, dan kooperatif biasanya menjadi statis, apatis, serta tidak tanggap terhadap perlunya perubahandan inovasi. Pandangan ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa semua konflik adalah baik.

Terdapat dua kategori konflik, yaitu:

  1. Konflik fungsional, yaitu konflik yang mendukung tujuan kelompok dan meningkatkan kinerjanya.
  2. Konflik disfungsional, yaitu konflik yang menghambat kinerja kelompok.

Secara spesifik, ada tiga tipe konflik:

  1. Konflik tugas, yaitu berhubungan dengan muatan dan tujuan pekerjaan.
  2. Konflik hubungan, yaitu berfokus pada hubungan antarpersonal.
  3. Konflik proses, berhubungan dengan bagaimana suatu pekerjaan dilaksanakan.

Kesimpulan

Terjadi perkembangan dalam cara pandang sebuah organisasi atau kelompok orang dalam memandang apa itu konflik. Kelompok tradisional menganggap bahwa konflik haruslah dihindari karena hanya akan memberikan dampak buruk pada organisasi atau pun perusahaan. Lalu, kelompok hubungan manusia memandang bahwa konflik adalah suatu keniscayaan yang pasti akan terjadi hasil dari hubungan sesama manusia dalam kelompok. Sedangkan kelompok terakhir, pandangan interaksional melihat konflik mempunyai dua sisi yang berbeda, bisa menguntungkan suatu kelompok atau organisasi di satu sisi dan juga dapat merugikan di sisi yang lian.

Lanjutan

Lalu bagaimana proses sebuah konflik itu terjadi di dalam kelompok atau organisasi? Proses terjadinya konflik akan dijelaskan dalam lanjutan artikel berikutnya yang berjudul “Proses Terjadinya Konflik“.

Disarikan dari Konflik dan Negosiasi dalam Perilaku Organisasi (Organization Behaviour) oleh Stephen P. Robin (2008).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *