Permainan Tradisional Semakin Dilupakan

Posted on

Permainan tradisional atau saya lebih menyebutnya sebagai dolanan kampung sekarang ini sudah (sangat) ditinggalkan oleh anak-anak di pedesaan atau kampung. Itulah setidaknya apa yang saya lihat dari apa yang terjadi di kampung pelosok saya. Perlu diketahui, sebenarnya kampung saya ini tidaklah terlalu jauh dari jalan utama Pantura, karena memang hanya berjarak sekira 3 km. Namun karena memang kampung ini tidak punya akses jalan lain selain ke desa utama, menyebabkan kampung saya ini tertinggal dibandingkan dengan desa-desa tetangga. Bahkan penerangan listrik pun baru dapat kami rasakan sekira awal tahun 2000an.

permainan tradisional
Gambar: google

Masih ingat sekali jaman dahulu ketika kampung saya ini cuma berpenerang lampu templok atau lampu minyak tanah (paling-paling ada beberapa lampu petromaks), anak-anak di kampung saya ini, termasuk saya di dalamnya, senang sekali bermain di tanah lapang dengan sinar rembulan sebagai penerangnya. Beragam permainan tradisional atau dolanan kampung kami mainkan. Seolah memecah suasana malam yang sepi di kampung kami. Tentu, permainan tradisional atau dolanan kampung ini juga kami mainkan di siang hari.

Beberapa macam permainan tradisional yang seringkali dimainkan adalah patahan (saya tidak tahu istilah dalam bahasa Indonesianya), patakan, petak umpet, dino, dan masih banyak lagi. Permainan tradisional tersebut selain menjadi media hiburan kami saat itu, juga menjadi media sosialisasi dengan teman-teman sebaya. Seolah dengan permainan tradisional itu kami tidak pernah merasakan bahwa kami berada di kampung pelosok yang jauh dari keramaian dan kemajuan teknologi di masa itu.

Jangankan komputer, internet atau video games, penduduk yang mempunyai televisi pun masih dapat dihitung dengan jari tangan. Menonton televisi pun masih menjadi hiburan yang langka, apalagi kalau accu yang digunakan untuk menghidupi televisi itu harus dibawa ke wilayah kecamatan yang jauhnya sekira 13 KM dari kampung kami, pastilah kita tidak dapat menontonnya. So, bagi anak-anak di kampung saya itu permainan tradisional sangatlah akrab dengan kehidupannya.

Sekarang? Setelah sekira 10 tahun kampung kami mendapatkan pasokan listrik dari PLN, kehidupan sungguh sudah sangat berubah. Anak-anak sekarang di pelosok kampung saya ini tidak lagi mengenal permainan-permainan tradisional. Mereka sudah sedari pagi, kalau musim liburan sekolah seperti sekarang ini, sudah berada di depan monitor sambil tangan mereka memegang stick Play Station di salah satu rumah tetangga yang menyewakan permainan video games tersebut.

Mungkin memang sama menyenangkannya dengan permainan tanpa biaya di waktu saya masih kecil dulu. Atau mungkin malah permainan modern sekarang ini justru lebih menantang karena hampir tiap bulan akan ada permainan baru yang disuguhkan. Namun, jiwa bersosialisasi anak-anak sekarang (menurut saya) jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan generasi saya yang hanya memainkan permainan tradisional.

0 thoughts on “Permainan Tradisional Semakin Dilupakan

  1. Tanpa disadari memang budaya kita udah ancur, denga adanya globalisasi, kita semakin menyukai budaya barat dan tanpa disadari melupakan budaya sendiri. Nah pas aja budaya dicuri orag, baru ribut -__-

      1. nah itu bener, mulai melestarikan musik tradisional, mungkin kalo ngga suka bisa campur aduk sama gitar spanyol atau mungkin alat musik yang bukan dari Indonesia? bener ngga?
        Kalo tarian nya norak, berarti yang nyebutnya juga norak? bener ngga? Toh itu budaya sendiri -__-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *