Reformasi Pendidikan Guru dan Gagasan Mediasi Semua Pihak

Posted on

Di Amerika Serikat, 48 dari 50 negara bagian telah mengadopsi peraturan-peraturan berbasis standar yang berupaya untuk mereformasi pendidikan guru dan perijinan dari sistem pelajaran dan kredit berdasarkan input pada seseorang yang didasarkan pada hasil-hasil dan performa melalui otoritasnya untuk menyetujui program-program persiapan. Artikel ini disimpulkan dari penelitian kualitatif, melalui penelitian studi kasus kolektif yang menilai tekanan penerapan antaran peraturan-peraturan persetujuan program dan administrator program, fakultasm dan mahasiswa pada tiga institusi persiapan guru di Wisconsin. Hasil temuan tersebut menekankan bahwa keyakinan dan kesan dari semua pihak terkait memediasi peraturan secara langsung pada poin bahwa penyempurna program terus menerima persiapan yang sama di samping upaya-upaya reformasi. Gagasan teoretis untuk mendukung klaim ini ditampilkan dan secara potensial memberikan pencerahan pada mediasi semua pihak terkait dalam upaya-upaya reformasi pendidikan lainnya.

Bales, B.L. (2007). Reformasi Pendidikan Guru Di Amerika Serikat Dan Gagasan Mediasi Semua Pihak. Jurnal Internasional Peraturan Pendidikan dan Kepemimpinan 2(6). Diambil dari http://www.ijepl.org

 

Belum lama ini, otoritas nasional memberikan mandat pada negara bagian untuk menerapkan peraturan-peraturan berbasis performa yang menghubungkan standar pengetahuan isi siswa dengan akreditasi persiapan guru, perijinanm dan perkembangan karir. Peraturan-peraturan yang baru ini dirancang untuk secara fundamental mengubah apa yang para siswa pelajari, bagaimana para guru itu mengajar, dan bagaimana para guru belajar untuk mengajar (Konsorsium untuk Penelitian Peraturan dalam Pendidikan, 1991; Komisi Nasional dalam Pengajaran dan Masa Depan Amerika, 1996). Sesuai dengan teori tindakan ini, 48 negara bagian termasuk Wisconsin, mengadopsi peraturan-peraturan berbasis standar yang berusaha untuk mereformasi pendidikan dan perijinan dari guru dari sebuah sistem input pelajaran dan kredit pada seseorang berdasarkan pada hasil dan performa melalui otoritasnya untuk menyetujui program-program persiapan (Departemen Pendidikan Amerika Serikat, 2004).

Namun sebagaimana Zeichner (2005) jelaskan, “Keputusan tentang peraturan dan praktek dimediasi oleh pemikiran-pemikiran moral, etika, dan politik” (hal. 739). Oleh karena itu, mediasi semua pihak terhadap upaya reformasi apa pun dapat berasal dari sebuah rangkaian ketertarikan diri sendiri. Dengan diberikan hasil-hasil yang diharapkan dan potensi mediasi dari peraturan, seseorang harus bertanya, “Bagaimana semua pihak dalam pendidikan guru—administrator, fakultas, dan mahasiswa—sesuai dengan dan merespon pada peraturan persetujuan program berbasis standar?” Artikel ini menyajikan hasil temuan berbasis penelitian dari negara bagian Wisconsin untuk respon atas pertanyaan tersebut. Kajian ini menguji tekanan penerapan antara pemintaan dari peraturan-peraturan persetujuan program baru dan beragam pelaku dalam institusi persiapan guru di Wisconsin. Dengan menyoroti gagasan teoritikal yang menyiapkan diri mediasi semua pihak pada pengajuan pertanyaan langsung, potensi peraturan untuk mengubah bagaimana para guru di Amerika Serikat dipersiapkan dan beruaha untuk meningkatkan tingkat pencapaian para siswa.

Semua peraturan negara bagian yang memberikan petunjuk instruksi akan membentuk “sebuah susunan peraturan yang konsisten dan mendukung akan peningkatan sekolah. Kerangka-kerangka kurikulum di negara bagian akan mengatur pemikiran terbaik di lapangan tentang pengetahuan, proses, dan keahlian yang para siswa perlu untuk ketahui dalam setiap area kurikulum inti. Materi instruksional dan penilaian kualitas tinggi akan terikat pada kerangka-kerangka ini. Program-program profesional pre-servis akan berganti dari sebuah penekanan pada kumpulan kredit dalam area mata pelajaran pada sebuah penekanan dalam persiapan para guru untuk mengajarkan isi yang diharapkan dari para siswa. (Goertz, Floden, & O’Day, 1995, hal. 5)

Untuk menciptakan keserasian dalam setiap peraturan-peraturan pendidikan guru ini di masing-masing negara bagian, otoritas nasional menggunakan amandemen dan kucuran dana yang tercantum dalam otorisasi ulang Undang-Undang Sekolah Dasar dan Menengah 1994 (ESEA), Tujuan-tujuan dari Undang-Undang Pendidikan Amerika tahun 2000, dan otorisasi ulang Undang-Undang Pendidikan Tinggi tahun 1998. Sekarang ini 48 dari 50 negara bagian telah mengembangkan standar-standar guru berbasis performa dan menyerahkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan guru yang diperlukan melalui otoritas mereka untuk menyetujuai program-program persiapan dan perijinan guru.

Sebagai bagian dari pemenuhan akan pendanaan ESEA dan HEA, masing-masing negara bagian dan institusi-institusi persiapan guru harus secara publik melaporkan kualitas program mereka dengan cara menggambarkan sertifikasi dan angka kelulusan perijinan dari penyempurna untuk Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Program-program pendidikan guru juga harus dapat dipertanggungjawabkan atas performa mereka melalui proses persetujuan program dari masing-masing negara bagian; sebuah proses yang dirancang untuk meyakinkan publik bahwa penyempurna program dapat memberikan kesempatan yang mendukung tingginya tingkatan pencapaian siswa.

Peraturan-peraturan dan statuta baru yang tertulis dalam Pasal PI 34 dalam Kitab Undang-Undang Administratif Wisconsin mengajukan 10 Standar Wisconsin untuk Perkembangan dan Perijinan Guru, yang mencerminkan rekomendasi dari Konsorsium Penilaian dan Dukungan Guru Baru Antar Negara Bagian (INTASC). Pasal PI 34 memuat semua program-program persiapan untuk rangkaian yang sama dalam standar guru dan prosedur persetujuan program, karena pasal ini juga memberikan fleksibilitas bagi institusi untuk mengembangkan program-program yang “menggambarkan misi, tujuan, dan susunan organisasi yang unik” (Departemen Instruksi Publik Wisconsin, 2001, hal. 2). Agar sesuai, institusi-institusi persiapan guru harus memberikan para kandidat berupa arahan kurikulum dan kesempatan-kesempatan belajar yang diperlukan untuk memenuhi performa sebagaimana dinyatakan dalam Standar Guru Wisconsin.

Kesuksesan dari upaya reformasi ini tergantung pada sebuah teori tindakan yang secara eksplisit mengikat persiapan dan perijinan dari para guru terhadap standar baru pembelajaran siswa. Di dalam teori tersebut, peraturan-peraturan persetujuan program berbasis performa ditujukan untuk meningkatkan kualitas guru dengan cara mengubah cara para kandidat tersebut dipersiapkan. Maka, secara teoritis program-program yang bergerak melalui proses persetujuan baru tersebut seharusnya menggambarkan tujuan tersebut.

 

Orientasi Teoretis

Empat fokus teoretis yang dibentuk dari rancangan penelitian dan analisa data yang diolah: teori reformasi berbasis standar; kemungkinan; peraturan mikro-politik; dan keragaman pembelajaran dan perkembangan guru. Teori dari reformasi berbasis standar ini bersifat fundamental dalam upaya peraturan ini karena di dalamnya terdapat tiga tujuan:

  1. Standar-standar tersebut membentuk tujuan kurikulum dan memberikan kerangka untuk cara instruksional.
  2. Standar-standar tersebut “membatasi kerja guru [para pendidik] dan para siswa pada sebuah inti yang dapat diatur dari hasil-hasil pembelajaran yang dibagi secara luas” (Sykes & Plastrik, 1993, hal. 9).
  3. Standar-standar tersebut berlaku sebagai sebuah katalis untuk “mengubah bagaimana guru [para pendidik] mengajar dan anak-anak [para kandidat] belajar dengan cara menciptakan visi-visi baru dalam pengajaran dan dengan mengembangkan penilaian-penilaian yang paralel dan memunculkan praktek-praktek instruksional yang baru” (Sykes & Plastrik, 1993, hal. 9).

Tujuh prinsip kemungkinan teoretis (Weick, 1995) digunakan untuk mengusik tindakan dan reaksi yang dinuansakan dari para peserta untuk perminataan peraturan; dimana masing-masing berkontribusi pada pemahaman kita tentanga bagaimana orang-orang mengerti akan permintaan-permintaan.

Teori mikro-politik peraturan fokus pada negosiasi atas implementasi yg membantu kita untuk mengeksplorasi bagaiman para peserta menyelesaikan tekanan-tekanan diantara permintaan-permintaan peraturan, keyakinan personal mereka tentang hubungan pengajaran dan pembelajaran, kurikulum, dan susunan kerja mereka.

Manakala tema-tema itu muncul dari data, sekumpulan teori pengajaran dan perkembangan para guru digunakan untuk fokus pada bagaimana program-program tersebut menyiapkan para kandidat secara berbeda-beda. Pemahaman dari semua pihak terhadap bagaimana para siswa program pengajaran mempelajari dan mengembangkan sebuah petunjuk praktek profesional dari pemilihan kurikulum mereka.

 

Rancangan Penelitian

Proyek ini merupakan penelitian kualitatif, penelitian studi kasus kolektif. Program-program sertifikasi skunder di Perguruan Tinggi Guru Ridge Eagel, Universitas City, dan Perguruan Tinggi Seaway dipilih sebagai tempat penelitian karena ada beberapa alasan. Pertama, masing-masing menggambarkan salah satu dari tiga jenis institusi: sebuah sekolah negeri yang ditrasformasikan, universitas penelitian, perguruan tinggi swasta seni liberal (Goodlad, Soder, dan Sirotnik, 1990). Kedua, masing-masign institusi menawarkan sebuah program sertifikasi tingkat sarjana empat atau lima tahun yang diakui secara nasional dan tradisional (Morse, Flanigan & Setoodeh, 2003). Terakhir, tidak ada dari ketiga institusi tersebut mencari akreditasi dari satu agensi luar, tidak pula merencanakan untuk melakukannya di masa mendatang. Dengan ciri-ciri tersebut akan mendukung penggunaan penelitian studi kasus kolektif dan secara begantian dapat mendorong pada “teorisasi yang lebih baik tentang koleksi kasus yang lebih luas” (Stake, 2000, p. 437).

Proyek ini membutuhkan sembilan bulan di lapangan. Dengan menggunakan alat-alat analisis dokumen, observasi peserta, dan wawancara, data yang ada dikerjakan dengan tiga kelompok pihak pendidikan guru khusus—administrator, fakultas, dan mahasiswa—karena masing-masing kelompok berada pada tingkatan institusi, program, atau kandidat program tersebut. Pada tingkat institusi, analisis dokumen mencakup item-item yang terkait dengan standar-standar berbasis performa dari institusi dan sistem penilaian. Pada tingkatan program, data yang ada dikelola melalui sebuah kajian program halaman web dan dokumen-dokumen dari tiga materi utama: metode pengajaran, pendidikan multikultural, dan psikologi pembelajaran. Protokol wawancara meliputi tiga pertanyaan berikut ini:

  1. Mengapa anda merasa bahwa negara bagian memilih penerapan peraturan-peraturan penilaian performa berbasis standar?
  2. Dengan cara manakah pengenalan standar-standar berbasis performa itu telah mempengaruhi pekerjaan anda sebagai seorang guru pendidik?
  3. Bagaimana anda meramalkan program pendidikan guru ini akan berubah lima tahun mendatang?

 

Analisis Data

Proses analisis penculikan membantu penulis menyusun penyandian dan analisis data. Penulis mulai dengan cara mengambil sapuan luas di masing-masing kasus dan mengidentifikasi data-data yang menggambarkan (a) sifat dari fokus teoretis kajian, (b) karakteristik institusi, (c) kualitas program, atau (d) respon yang secara langsung berkaitan dengan peraturan-peraturan baru. Penulis menciptakan titik-titik penyandian dalam paragraf tersebut dan memasukannya ke dalam perangkat lunak, Nvivo.

Beberapa tema dimunculkan: keyakinan fundamental semua pihak tentang bagaimana para kandidat belajar untuk mengajar materi individual yang dibentuk; susunan program tetap yang dirintangi pembahasan tentang perubahan program; dan tidak adanya pembahasan ini yang didukung oleh kepercayaan diri institusi pada kemampuannya untuk menyiapkan para guru. Masing-masing dari tema ini disituasikan ulang dalam data dimana penulis memandang ke seluruh tiga kasus untuk hubungan, persamaan, dan contoh negatif. Proses analisis ini menghasilkan cara pembuktian atas penemuan kajian.

Kajian ini tidak meragukan posisi pemilik reformasi berbasis standar dalam peraturan pendidikan guru di masing-masing negara bagian. Perlu perhatian lebih ketika mengggunakan data ini untuk membicarakan efek-efek tertentu pada program lainnya dalam institusi yang sama atau ketika menunjuk dampak peraturan pendidikan guru berbasis standar di Amerika Serikat. Namun, temuan tersebut secara khusus diberikan fokus sekarang dan sangat publik dalam meningkatkan kualitas guru di Amerika Serikat, pembahasan tentang bagaimana para guru harus dipersiapkan, dan yang mana mekanisme peraturan tersebut memfasilitasi tujuan tersebut.

 

Hasil Temuan dari Penelitian

Banyak poin penting dari kajian ini menekankan bahwa keyakinan dan kesiapan mediasinya semua pihak untuk petunjuk peraturan tanpa mengganggu elemen kurikulum, teoretis, dan pedagogik program. Hasil temuannya mendukung klaim ini: (1) aktifitas dan perhatian reformasi berkurang ketika upaya reformasi tersebut berpindah melalui tingkatan program institusional, fakultas, dan kandidat; (2) aktifitas reformasi bukanlah indikatif dari perubahan program; dan (3) ketiadaan teori pembelajaran dan perkembangan guru yang eksplisit, terus-menerus, atau koheren memungkinkan adanya program modifikasi pilihan berdasarkan pada permintaan peraturan. Masing-masing hasil temuan memediasi perubahan yang diproyeksikan dari teori reformasi berbasis standar-standar pada poin bahwa program-program tersebut tidak berubah. Kesimpulan ini menjadi signifikan karena hal ini mengimplikasikan bahwa penyempurna program kandidat program berlanjut untuk menerima persiapa yang sama di samping upaya-upaya reformasi negara bagian.

Hasil temuan pertama menjadi jelas ketika kita mengkaji dampak-dampak reformasi pada tingkatan program institusi, fakultas, dan kandidat. Pada tingkatan institusi, bahasa dari standar berbasis performa dan portofolio itu sudah lumrah. Matrik-matrik yang rumit, sekarang ini ditemukan di laman Web dan dokumen yang tersedia secara publik lainnya masing-masing instituti, merinci kesempatan-kesempatan kandidat untuk mempelajari peroforma yang diasosiasikan dengan masing-masing standar. Dokumen tersebut menggambarkan “jaringan makna yang dibagikan secara intersubjektif yang dipertahankan melalui pengembangan dan penggunaan dari sebuah bahasa umum dan interaksi sosial sehari-hari” serta menyederhanakan pertimbangan semua pihak.

Pada tingkatan program, rincian kesempatan-kesempatan kandidat menjadi kacau ketika para guru pendidik mempertimbangkan permintaan standar dan penilaian berbasis performa di dalam susunan kurikulum yang ada dan materi individual.

Efek pengurangan ini menghasilkan temuan kedua: aktifitas reformasi bukanlah indikatif dari perubahan program. Semua pihak pada tingkatan yang berbeda berbicara terbukan tentang perubahan dokumen institusi dan program untuk menggambarkan bahasa yang diinginkan di negara bagian.

Tingkatan mikro-politik peraturan ini secara jelas menekankan bahwa semua pihak pada masing-masing tempat penelitian memediasi perminataan peraturan di samping variasi pada kebudayaan institusional pada masing-masing program.

Pada saat yang bersamaan, pertimbangan semua pihak juga menguatkan pengumuman dari lingkungan yang pantas. Karena peraturan baru, beberapa guru pendidik mengikuti kembali pelatihan itu, menguju praktek instruksional mereka, dan mengadakan perbincangan dengan fakultas program lainnya. Perhatian pada tujuan-tujuan kurikulum ini, penilaian, dan sebuah pemikiran ulang tentang praktek instruksional merupakan hasil-hasil yang diharapkan dari upaya reformasi berbasis standar-standar.

Namun, perubahan apa pun yang dihasilkan dari percakapan ini nampak menciptakan tekanan ketika perubahan tersebut disituasikan ulang di dalam susunan program yang ada—tekanan antara bagaimana sebuah program menyusun kesempatan-kesempatan kandidat untuk mempelajari performa yang diindentifikasi dengan masing-masing standar dan ketika siswa pengajaran tersebut secara berkembang mampu untuk menggambarkan perilaku pedagogiknya. Kurangnya percakapan semua pihak tentang bagaimana para kandidat mengembangkan sebuah praktek profesional dan bagaimana dukungan atau halangan susunan kurikulum program yang mempelajari gabungan tekanan tersebut. Akhirnya, susunan program tersebut tetap kukuh, dan upaya-upaya untuk mengimplementasikan kedalaman reformasi apa pun itu diperdalam. Risalah dari penambahan sederhana kurikulum yang diamanatkan oleh peraturan menekankan bahwa program-program yang ada sekarang mendukung manajerial respon pilihan terhadap upaya reformasi sebelumnya dan kurangnya perhatian pada teori pembelajaran dan perkembangan guru.

Hasil temuan ketiganya adalah tidak adanya teori pembelajaran dan perkembangan guru yang eksplisit, terus-menerus, atau koheren dalam program persiapan. Secara historis, teori-teori pembelajaran ahli behaviorisme dan sosial telah mendominasi pemahaman kita tentang pembelajaran dan perkembangan guru. Secara teoretis, implementasi dari sebuah program pendidikan guru berbasis standar-standar seharusnya telah mengadakan percakapan tentang bagaimana para kandidat guru mempelajari dan mengembangkan sebuah praktek profesional dan perubahan programatik mana yang paling baik mendukung pembelajaran tersebut—percakapan yang mungkin telah menggambarkan pemahaman sekarang ini tentang ahli konstruktifisme, teori pembelajaran guru kognitif atau sosiobudaya yang disituasikan.

Hasil temuan dalam kajian ini menekankan keyakinan semua pihak tentang bagaimana para kandidat belajar untuk mengajar dan mengembangkan sebuah praktek profesional yang dibentuk dari pemikiran mereka tentang reformasi dan dikerangkakan bagaimana mereka terlibat dalam mikro-politik penerapan. Pertimbangan mereka dikuatkan oleh susunan institusional yang melarang percakapan tentang hubungan yang rumit antara kerangka konseptual berbasis standar-standar dan dasar-dasar teoretis, kurikular, dan pedagogik yang dibutuhkan untuk mempertegak visi tersebut. ketiadaan percakapan yang menantang tersebut, pada tingkatan institusi, memungkinkan susunan program untuk tetap kukuh dan mendukung kepercayaan diri institusi pada kemampuannya untuk mempersiapkan para guru. Secara kumulatif, tindakan-tindakan tersebut meminimalisasi potensi apa pun dalam upaya yang terakhir untuk meningkatkan tingkatan pencapaian siswa dengan cara mengubah bagaimana para guru tersebut dipersiapkan.

Sebuah penilaian dari hasil temuan ini mengungkap gagasan teoretis yang menyiapkan pertimbangan semua pihak dan mediasi untuk peraturan. Dalam penelitian ini, administrator program, guru pendidik, dan siswa pengajaran mengklaim tingkatan keahlian yang beragam tentang bagaiman seseorang belajar untuk mengajar dan bagaimana seseorang mengembangkan praktek-praktek profesional. Masing-masing sistem keyakinan semua pihak tergambar dari sebuah cakupan teori-teori pembelajaran dan perkembangan guru, yang membentuk bagaimana mereka mempertimbangkan, menginterpretasikan, dan pada akhirnya memediasi permintaan-permintaan peraturan. Semua pihak pada tingkatan institusional, fakultas, dan kandidat di masing-masing program terlibat dalam proses ini, yang secara kumulatif mengikis kemungkinan reformasi.

 

Kesimpulan dan Implikasi bagi Semua Pihak Pendidikan Guru

Penelitian ini memberikan sorotan pada implementasi pengaruh dan kemulusan dalam teori tindakan peraturan khusus ini. Hasil temuan menekankan bahwa keyakinan dan pertimbangan semua pihak memediasi perubahan-perubahan kurikular, pengajaran, dan instruksional tertentu yang diproyeksikan oleh teori reformasi berbasis standar-standar pada poin yang mana program tersebut tidak berubah. Hal ini mengimplikasikan bahwa generasi selanjutnya dari para kandidat guru di Wisconsin akan mewarisi persiapan yang sama sebagaimana mereka yang telah lebih dahulu mengikutinya. Yang lebih penting, visi baru dalam pengajaran dan pembelajaran yang diprediksikan oleh teori tindakan dalam upaya reformasi berbasis standar-standar akan tetap sukar untuk dipahami.

Toeri tindakan dalam sebuah upaya peraturan diprediksikan dalam asumsi bahwa, jika tidak tepat, dapat keluar dari jalur hasil yang diharapkan dari reformasi. Reformasi yang dikaji di sini—peraturan-peraturan persetujuan program berbasis standar-standar baru yang ada di Wisconsin—dirancang untuk meningkatkan tingkat pencapaian para siswa dengan cara mengubah bagaimana para guru tersebut dipersiapkan. Teori tindakan ini mengasumsikan bahwa semua pihak dalam pendidikan guru sekarang ini tidak mempersiapkan para kandidat yang cukup mendukung pembelajaran siswa. Bukti dari asumsi ini ditemukan dalam sebuah kajian historis tentang pembuatan keputusan untuk pendidikan guru, yang mana merinci bagaimana upaya-upaya nasioan telah berubah dari rangsangan menjadi perintah dan pertaruhan yang memberikan ketidak relaan itu meningkat. Selama berjalannya waktu, perubaan peraturan ini telah “mengikis otoritas dari guru pendidik untuk menentukan persyaratan masuk dan keluar serta materi kajian dari pendidikan guru”.

Dengan menghilangkan otoritas kelompok akan menciptakan sebuah dilema yang kentara ketika sebuah reformasi menargetkan kelompok yang sama. Sebagaiman Elmore dan McLaughlin (1988) menjelaskan bahwa,

Penggunaan peraturan sebagai sebuah implementasi dalam reformasi tumbuh dari sebuah ketidakpercayaan yang mendasar pada penilaian profesional. Namun dilema yang mengiringi penggunaan peraturan ini adalah bahwa takdir dari reformasi pada akhirnya tergantung pada mereka yang menjadi objek ketidak percayaan itu (hal. 34).

Dengan adanya fakta bahwa institusi pendidikan tinggi di Wisconsin mempunyai sebuah warisan untuk mempersiapkan para guru yang membantu meluluskan para senior mencapai beberapa skor tertinggi nasional dalam Tes Perguruan Tinggi Amerika Serikat, peraturan-peraturan baru nampak menjadi upaya lain untuk meruntuhkan penilaian profesional dari para guru pendidik. Tanpa adanya perubahan yang kentara dalam persiapan guru dan secara signifikan tingkatan yang lebih baik dalam pembelajaran untuk semua siswa, otoritas guru pendidik akan terus mengikis. Oleh karena itu: Bagaimana para guru pendidik dapat mendapatkan kembali otoritas “untuk meyakinkan bahwa program-program tersebut yang mempersiapkan para guru memberikan mereka kesempatan untuk mempelajarai hal-hal itu yang mana para siswa mereka perlu untuk diketahui?” (Darling-Hammond & Brnsford, 2005, hal. 475).

Tiga rekomendasi akan membantu membangun ulang otoritas dan posisi profesional para guru pendidik mereka sebagai pengawas dari program-program yang berkualitas tersebut. Dengan diimplementasikan secara bersamaan, rekomendasi tersebut dapat mengubah lintasan pertanggungjawaban yang sekarang ini muncul dalam peraturan besar yang mengitari persiapan para guru. Pertama, semua pihak seharusnya terlibat dalam percakapan berbasis penelitian dan kolegial serta memperbaiki program-program sehingga program tersebut terdapat benang-benang teoretikal, kulikural, dan instruksional yang koheren yang mendukung pembelajaran dan perkembangan para kandidat. Dalam kajian ini, keyakinan semua pihak tentang bagaimana para siswa pengajaran mempelajari dan mengembangkan sebuah praktek profesional yang diperkuat oleh susunan institusional yang melarang percakapan sulit tentang hubungan-hubungan yang rumit diantara dan antar teori pembelajaran, visi program, dan rancangan kurikular. Dengan mencoba untuk mempertimbangkan dan mengimplementasikan petunjuk peraturan yang baru dalam susunan program yang ada membatasi potensi reformasi dan kemungkinan dari apa pun yang menghasilkan peningkatan program. Karena, dengan memprioritaskan jenis-jenis percakapan ini diantara fakultas program sangatlah sulit dengan diberikannya beban kerja dan susunan yang pas dari berbagai fakultas mereka, tanpa pembahasan ini reformasi persiapan guru tetap  dangkal. Sebagai contoh, kita tahu “bahwa terdapat keseluruhan badan kerja tentang pembelajaran guru dalam komunitas dan persiapan para guru untuk keragaman sosial yang datang dari perspektif kritis dan multibudaya yang ditujukan untuk mengganggu norma-norma pendidikan guru yang konfensional” (Cochran-Smith, 2005, hal. 15). Bagaimana badan-badan penelitian ini dapat menantang keyakinan dan pertimbangan kita dan digunakan untuk meningkatkan kualitas dari penyempurna program? Bagaimana penelitian dari negara bagian lain yang telah mengimplementasikan peraturan-peraturan berbasis standar menginformasikan  perkembangan  program  pendidikan guru di Amerika Serikat?

Kedua, para guru pendidik perlu secara kritis untuk menilai peranan dari penelitian peraturan dalam upaya-upaya reformasi program. Sebagai contoh, kita seharusnya tidak mengasumsikan sebuah hubungan sebab-akibat antara standar-standar guru dan pembelajaran siswa. Dan tidak pula kita mengasumsikan bahwa mediasi peraturan pendidikan guru itu dibatasi pada Amerika Serikat. Sebuah agenda penelitian kuat yang menguji interaksi yang kompleks diantara semua petunjuk peraturan, program pendidikan guru, dan performa para kandidat di ruang kelas seharusnya menghasilkang pemahaman baru, khususnya jika kita melihat keluar dari belahan bumi barat. Teori pertimbangan dari Weick menawarkan sebuah alat yang bergunan untuk pemahaman yang lebih baik untuk kompleksitas ini. Sebagaimana sebuah agenda mengadakan penelitian peraturan yang membangung peranan dan keahlian para guru pendidik dalam menghasilkan pengetahuan yang baru.

Akhirnya, semua pihak dalam pendidikan guru seharusnya mengeksplorasi jalan yang lebih baik untuk  mengkomunikasikan penelitian persiapan pada para pembuat kebijaka. Bagaimana mekanisme untuk pembagian pengetahuan profesional yang sekarang ini dapat ditingkatkan? Apakah saran komunikasi lain menawarkan jalan yang lebih baik? Tantangannya jelas: “Marilah tidak membiarkan diri kita menjadi diabaikan dalam perdebatan peraturan tentang pengajaran dan pendidikan guru” (Sleeter. 2004, hal. 6).

Dengan mengambil tiga rekomendasi ini maka akan membuat program persiapan guru meningkat dengan jelas dan mendorong sebuah pergantian dalam kemungkinan reformasi (Colburn, 2003). Pergantian ini akan mendukung kredibilitas para guru pendidik dan dapat mencegah konvensi peraturan di Amerika Serikat tentang peningkatan kualitas guru dengan mengelakkan program-program persiapan. Dengan menjadi pengawas dari kualitas program maka akan mengundang partisipasi kita dalam konvensi peraturan tentang pengajaran dan pendidikan guru di semua tingkatan.

 

 

Penulis: BARBARA L. BALES dari Universitas Wisconsin – Milwaukee

Penerjemah: Mochlisin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *