rindu ramadhan di kampung halaman
Gambar: google

Rindu Ramadhan di Kampung Halaman

Posted on

Rindu Ramadhan di Kampung Halaman – Bulan Ramadhan 1433 H ini merupakan kali ke delapan saya harus berpuasa jauh dari keluarga yang ada di kampung sana. Kerinduan akan suasana puasa Ramadhan pun selalu datang di dalam hati ini setiap kali menjelang bulan yang penuh rahmat ini. Rasa rindu itu pun kembali muncul tahun ini. Rasa ingin kembali merasakan suasana kemeriahan dan suka cita warga kampong menyambut dan menjalani aktifitas di bulan Ramadhan meski dengan berbagai macam problematika kehidupan sosial dan ekonomi mereka.

Banyak hal atau lebih tepatnya kenangan yang membuat rindu Ramadhan ini semakin mendalam. Kebersamaan bersama keluarga saat-saat menikmati hidangan berbuka dan sahur yang mungkin memang seadanya namun terasa hangat dalam kemesraan. Namun, apakah kemesraan yang hangat ini hanya menjadi excuse karena menjalani puasa di tanah perantauan berarti harus bersusah-susah ke warung untuk membeli makanan berbuka atau pun sahur? Entahlah alasan apa yang sebenarnya membuat hati ini semakin rindu Ramadhan.

rindu ramadhan di kampung halaman
Gambar: google

Sempat merinding tangan ini selama perjalanan pulang dari Semarang ke pelosok kampung di Batang sana. Rindu Ramadhan itu semakin mendidih sembari terlintas sesuatu di dalam pikiran ini, puasa Ramadhan di rumah, tarawih, dan tadarrus di kampung. Ya, suasana itu dulu saya nikmati bersama teman-teman seusia saya, sekira delapan tahun ke belakang. Sore hari menjelang bedug adzan maghrib, setelah jamaah sholat tarawih, serta pagi hari setelah shubuh saya dan teman-teman meramaikan mushola kecil di depan rumah dengan tadarrus al-qur’an. Secara bergantian, kita membaca ayat-ayat al-qur’an hingga kalau kita hitung, kita dapat men-khatam-kan al-qur’an hingga lima kali dalam sebulan. Namun, itu semua tinggal kenangan. Dua hari pertama puasa yang Alhamdulillah saya jalani di kampung halaman, tidak ada lagi pemandangan itu. Tidak ada lagi anak-anak atau pun remaja yang tadarrus di mushola kecil depan rumah. Hanya ada beberapa gelintir orang, itu pun umur mereka sudahlah dapat dibilang tua.

Rindu Ramadhan lainnya yang tak terobati adalah permainan ‘jeblukan‘ atau meriam bambu yang biasa dimainkan anak-anak hanya selama bulan Ramadhan di kampung kami. Sekarang suasana dan tradisi ini seolah lenyap. Memang sih tradisi ini tidak ada hubungan sosial atau pun agamis dengan puasa Ramadhan, namun bagi mereka yang dahulu sering mendengarkan itu semasa bulan Ramadhan pastilah akan merasakan kerinduan itu. Anak-anak sekarang di kampung saya ini bahkan mungkin sudah tidak mengetahui itu lagi, mereka sudah dikembangkan oleh masa teknologi dengan permainan elektronik dan komputer. Permainan tradisional tidak lagi mereka kenali.

Namun, rindu Ramadhan saya setidaknya terobati dengan mendengar ramai ‘tongprek’ anak-anak kampung yang membangungkan warga kampung untuk sahur. Meskipun kadangkala hal itu justru dianggap mengganggu warga karena terkadang mereka memainkan ‘tongprek’ kapan saja dan memulai membangunkan warga kampung yang masih terlalu malam. Saya tidak mempermasalahkan itu, dan saya lebih menganggapnya itu adalah obat rindu Ramadhan tahun ini.

Beberapa bulan lalu, sempat terpikir untuk tahun ini pulang kampung setelah diminta untuk mengajar di sekolah dimana saya sekolah jaman dahulu. Kesempatan baik untuk berperan dan mendarmakan bakti pada masyarakat serta sekaligus menikmati kembali atau lebih tepatnya mengobati rindu Ramadhan ini. Sempat bingung untuk memutuskan untuk sepenuhnya pulang kampung atau tetap di Semarang, akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memutuskan untuk tetap di Semarang. Mudah-mudahan rindu Ramadhan dengan suasana kampung halaman dapat saya rasakan kembali di tahun-tahun mendatang.

SA – Rindu Ramadhan di Kampung Halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *