Satu cerita di Minggu pagi

Posted on

Deru laju kereta Senja Utama yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen Jakarta telah berhenti di Stasiun Tawang Semarang telah berhenti dan seolah sudah menjadi hal yang biasa bahwa jadwal yang tertera baik dalam tiket dan/atau yang ada di banner tidak menunjukkan sebuah sinkronisasi. 40 menit lebih lama dari apa yang telah dijadwalkan. Setelah ada pemberitahuan di TOA bahwa kereta telah sampai tujuan akhir dan meminta semua penumpang untuk turun dari gerbong dan tidak lupa mengingatkan mereka jangan sampai ada barang yang tertinggal di gerbong. Saat itu screen K550i menunjukkan pukul 3.40 pagi hari, masih ada waktu untuk sholat isya’ pikirku karena memang saat berangkat saya tidak menjalankan sholat jama’ maghrib dan isya. Berjalan menyusuri deretan ruangan yang sebagian masih kosong dan beberapa pedagang yang tidak henti-hentinya menawarkan barang dagangannya dengan harga yang sungguh sangat mencekik, ditemani seorang yang baru saja saya kenal ketika akan membeli tiket di Stasiun Pasar Senen, mencari ruangan yang ada papan nama dengan dua bahasa—Inggris dan Indonesia—yang akhirnya saya sadari bahwa mushola masih ditutup. Sedikit aneh memang.

Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari stasiun melalui pintu keluar, di sana berkerumunlah para sopir taksi dan sopir (baca: tukang) ojek yang menawarkan jasa mereka untuk mengantar para penumpang ke tempat tujuannya. Kemudian kami harus berpisah karena temen saya sudah dijemput oleh ayahnya. Sementara itu, saya berjalan ke arah kanan stasiun ke dekat pintu masuk, dan saya sadari bahwa di sana terdapat sebuah masjid dimana di berandanya ada beberapa orang yang sedang duduk—mungkin sedang menunggu jemputan pun atau menunggu pemberangkatan kereta. Tidak lama, aku mengambil air dan masuk ke dalam masjid dan melaksankan sholat isya’. Saya ingat kalau sholat isya’ di akhir waktu sangatlah disukai oleh Allah. Terima kasih telah diselamatkan perjalanan ini dari dan ke Semarang-Jakarta.

Selesai sholat, saya bawa tas yang didalamnya cuma ada beberapa pakaian kotor dan makanan kecil. Lumayan agak berat memang. Saya gulirkan tombol K550i yang hanya tinggal beberapa persen bateray saja untuk browsing Okezone.com dari aplikasi OperaMini™ 5.1 version, berita kemenangan Jerman 3-2 atas Uruguay yang baru saja berakhir tidak luput untuk dibaca. Congratulations!! Lagi asyik browsing beberapa webmobile sekaligus—itu salah satu kelebihan dari OperaMini™ terbaru—dari handset, sebuah teguran dari seorang bapak yang saya pikir mungkin baru mempunyai satu orang anak karena memang nampak masih muda meminta pertolongan untuk meminjam handset saya dengan alasan bateray-nya sudah benar-benar drop untuk menelpon adiknya. Setelah mengambil chipsset Telkomsel™ dari handset, saya sodorkan Nokia® 1112 warna putih ke orang tersebut . Terdengar perbincangan di speakernya. Tidak lama beliau mengembalikan handset dan mengucapkan banyak terima kasih pada saya, setelah beberapa saat adiknya datang menjemputnya.

Alunan adzan sholat subuh terdengar dari TOA yang diletakkan di atap Mushola. Tidak lama beberapa orang yang tadi tiduran beranjak mengambil air wudhu dan bergegas ke dalam masjid membentuk barisan shaf sholat—sebelum ada perubahan arah shaf tanggal 17 Juli kemarin—berderet dari kiri ke kanan. Indahnya bisa sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat, saya kembali ke beranda musholadi sisi yang sebelah. Ada beberapa orang yang sedang asyik ngobrol. Kemudian salah seorang bertanya soal jadwal kereta. Sedikit penjelasan yang bisa saya berikan karena memang itu saja yang saya ketahui. Seorang mengaku berasal dari Surabaya itu seolah meng-intrograsi mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan pendidikan dan pekerjaan. Ada satu pertanyaan yang membuat saya sangat tertarik untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa orang ini bukanlah seorang calon penumpang Fajar Utama yang biasa saja. Dan benar juga setelah beberapa saat mengobrol beliau mengakui bahwa dirinya adalah seorang supervisor di salah satu CV yang bergerak di bidang konstruksi jalan Jabodetabek. Sambil menyodorkan satu bungkus makanan kecil—seingat saya itu adalah kue pia-pia—ke arah saya, beliau memberikan beberapa nasihat yang sungguh sangat bermanfaat untuk kehidupan. Nasihat tersebut saya anggap sebagai sebuah mata kuliah yang tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah pun atau kuliah. Thank for the advice.

Matahari mulai menyapa Stasiun Tawang dan saya putuskan untuk pulang ke kos yang ada di sampangan, karena tidak mau merepotkan temen, saya putuskan untuk naik angkot saja nantinya. Keluar dari pintu yang salah—karena keluar melalui pintu masuk—berjalan menuju ke arah Polder Tawang yang warnanya hijau dan berbau busuk. Dan sampai jumpa kembali di cerita lainnya.

Semarang, 11 Juli 2010  :cheerful:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *